Select Menu
Buah Unggul
Diberdayakan oleh Blogger.

Buleleng

Bali

‹
›

Teknologi

Lifestyle

Nasional

Videos

LokalZone - Seorang perempuan berumur empat tahun ditemukan tewas setelah tercebur ke kali yang berada tidak jauh dari rumahnya, korban diduga terseret air sepanjang tiga kilometer dan ditemukan tersangkut pada gorong-gorong. 

Berdasarkan informasi, Komang Trisna Antari (4) Terseret air kali atau telabah yang mengalir di belakang rumahnya di Dusun Ceblong, Desa Sudaji Kecamatan Sawan, Senin (30/3/2015) siang ditemukan meninggal dunia di Dusun Bantas tersangkut pada gorong-gorong saluran air subak setelah Polsek Sawan bersama BPBD Buleleng dan Tim SAR serta masyarakat melakukan pencarian hampir dua jam menyusuri aliran kali tersebut. 

Kapolsek Sawan Made Mustiada mengungkapkan, awalnya korban buang air besar di pinggir kali dan diduga korban tercebur pada kali yang saat itu aliran airnya sangat deras, sehingga korban terseret dan hilang, upaya pencarian dilakukan hingga menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia.

"Waktu itu anak ini buang air besar, hanya ditinggal sebentar oleh bibinya, ketika kembali sudah tidak ada. Kita bersama-sama warga dan tim SAR langsung melakukan pencarian hingga akhirnya menemukan korban di gorong-gorong dalam keadaan meninggal dunia," ungkap Kapolsek Sawan AKP Made Mustiada.

Kapolsek Sawan Mustiada memaparkan dari hasil pemeriksaan medis diketahui, korban meninggal dunia diduga kuat akibat benturan yang dialami di sekujur tubuhnya dan di bagian kepala karena ditemuka luka pada dahi korban dan juga kemasukan air hingga pada mulut korban mengeluarkan buih. Sedangkan kedua orang tua korban Made Yudiantaya (32) dan Nyoman Arpini (30) masih terlihat syok dengan musibah yang menimpa putri ke tiganya itu, bahkan ibu korban sempat tidak sadarkan diri saat tubuh anaknya itu langsung di bawa ke Setra Alit di Desa Sudaji untuk dikuburkan.
-
LokalZone - Ada pemandangan berbeda yang terjadi hari ini, Minggu (29/3/2015) di Desa Penglatan, Kec. Kab. Buleleng dimana masyarakat untuk pertama kalinya ikut berperan serta dalam pemilihan Kelian Desa Pakraman Penglatan. Sebelumnya pengangkatan Kelian Desa selalu mengikuti dresta, dimana Desa hanya menerima calon tunggal yang diserahkan dari lingsehan / Dadia Pasek Gelgel Purwe Werdhiyanya secara turun temurun. 

"Untuk pemilihan Kelian Desa Pakeraman kali ini, periode 2015-2020 pada hari ini sudah proses pemungutan suara. Prosesnya panjang hingga terjadi pemungutan suara, karena dari awig-awig seharusnya dicari dari lingsehan atau dadia untuk dimintakan persetujuan oleh Kerama Desa, karena tidak bisa memunculkan satu nama akhirnya dilakukan Pemilihan, untuk pertama kalinya," Ungkap Nyoman Budiastana, S.Pd. selaku Ketua Panitia Pemilihan Kelian Desa Pakraman Penglatan.

Walau baru pertama kali dilaksanakan pemilihan secara Demokratis namun partisipasi dari warga Desa sangat tinggi dengan jumlah kedatangan pemilih yang datang jauh melebihi target dari panitia.

"Hasil pelaksanaan hari ini sangat bagus, partisipasi dari masyarakat ternyata begitu antusias untuk menentukan pimpinan Desa Adat walaupun baru pertama kali diadakan. Saya sangat berterimakasih karena selain antusias, keamanan dan yang terpenting kedua belah pihak bisa menerima hasil yang telah diperoleh sehingga Desa tetap Shanti," papar Perbekel Desa Penglatan Nyoman Budarsa.

Dari 1.568 yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang hadir mencapai 946 orang yang terdiri dari kerama ngayah, ngampel, luput dan nyada khusus laki-laki. Dengan perolehan akhir dimenangkan oleh calon dengan nomor urut dua, Wayan Susila, S.Sos dengan dengan perolehan suara sebanyak 483 sedangkan calon calon nomor urut satu, Nyoman Panca, S.Pd. memperoleh suara sebanyak 457 dengan 6 surat suara yang tidak sah.

"Saya mengucapkan terimakasih kepada semua krama desa yang sudah ikut berpartisipasi dengan situasi yang sangat kondusif, ini merupakan kemenangan semua orang. Kedepan saya akan segera berkonsolidasi kedalam, mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan, mengevaluasi dan juga melanjutkan program-program yang sudah ada dari Kelian Desa Sebelumnya," kata Wayan Susila ditemui usai pemilihan.

Terdapat wacana yang beredar dilapangan yang menyebutkan bahwa kedepannya pemilihan Kelian Desa Pakraman Penglatan akan tetap dilaksanakan secara terbuka seperti saat ini apabila calon yang diserahkan dari pihak lingsehan atau dadia kembali lebih dari satu orang.
-
LokalZone - Menanggapi isu kelompok radikal yang tergabung dalam jaringan terorisme dan ISIS, Polres Buleleng mulai melakukan maping di wilayah Buleleng yang dianggap rawan disusupi pemahaman yang menyimpang tersebut.

"Kita akan maping di wilayah sini, terhadap adanya kelompok radikal, diradikalisasi dan kelompok pasca radikalisasi. Diradikalisasi ini merupakan mantan kelompok dan juga kelompok lainnya yang rentan terhadap paham ini," papar Kapolres Buleleng AKBP Kurniadi ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (27/3/2015).

Setelah melakukan langkah awal berupa pemetaan, berikutnya baru akan disusul dengan langkah-langkah penetralisir dan penangkalan dengan mengedepankan fungsi intelijen yang nantinya akan melakukan pola pergerakan Pemolisian Masyarakat.

Namun demikian Kapolres Kurniadi mengungkapkan hingga saat ini Buleleng masih terkategori aman dari pemahaman ISIS. "Buleleng masih aman dari masalah ISIS, untuk mengantisipasi atau menangkal kami tindak lanjuti dengan komunikasi dengan masyarakat baik melalui sms, media sosial, kalau ada lewat email kami kirimkan pemahaman-pemahaman untuk menangkal paham ISIS atau yang radikal ini," katanya.
-
LokalZone - Maraknya kasus pencurian yang menyasar Desa Tajun dan Tunjung Kecamatan Kubutambahan benar-benar membuat warga gerah dan siang tadi, Jumat (27/3/2015) lima orang perwakilan dari kedua Desa tersebut mendatangi Mapolres Buleleng untuk melakukan koordinasi terkait langkah-langkah Kepolisian yang sudah dilakukan untuk membawa pelaku kemeja hijau. 

"Bukan resah, kami sudah sangat resah.! Ada beberapa yang sudah disampaikan tadi pertama mengenai wajah pelaku yang terekam CCTV, irforman dari warga sekitar, termasuk dua mobil pickup warna merah yang berbeda nopol juga akan di cek pihak Kepolisian," ungkap Kepala Desa Tunjung Made Sadya usai mengikuti gelar perkara di Mapolres Buleleng.

Masih berdasarkan Sadya, jumlah pencurian cengkeh yang terjadi di Desa tersebut sangat banyak dan terkesan sangat berani. "Yang hilang cengkeh saja, kalau berapa banyak dari dulu sudah sangat banyak sekali. Yang terakhir itu 5 karung, pencurian bahkan sambil makan durian. jadi pencurinya sudah sangat meremehkan warga Desa," katanya.

Ditempat terpisah Kapolres Kurniadi mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan penyelidikan secara intensif namun demikian masih terdapat kendala dalam mengindentifikasi pelaku pencurian.

"Yang tadi kita lakukan gelar perkara memberikan hasil-hasil penyelidikan kami, tadi sudah disampaikan kepada masyarakat yang melaporkan, saat ini ada kendala identifikasi dari pelaku. Bukti atas pelaku sudah ada, tinggal kita ingin memastikan yang di cctv itu siapa," papar Kapolres Kurniadi yang didampingi Kasat reskrim AKP Ketut Adnyana TJ.

Untuk mengidentifikasi pelaku yang berhasil terekan dalam CCTV tersebut pihak kepolisian akan menyebarkan foto tersbut ke dua Desa itu. Walau masih belum bisa dipastikan apakah pelaku merupakan warga setempat atau bukan aparat tetap mencurigai adanya orang dalam atau warga setempat yang ikut ambil andil.

"Foto akan disebarkan, jika sudah ada salah satu yang mengetahui akan langsung kita amankan. Apakah orang luar atau bukan masih belum diketahui, tetapi pastinya ada penghubung dari orang setempat," jelas Kurniadi.

Dari hasil Gelar itu juga telah diambil sikap bahwa kedepannya baik dari pihak Desa maupun Polres Buleleng akan lebih aktif berkomunikasi, khususnya menjelang panen cengkeh yang nantinya akan ditindaklanjuti dengan peningkatan kekuatan pengamanan di wilayah dimaksud dengan mengedepankan satuan Reskrim atau Polisi berpakaian preman.
-
LokalZone - Polda Metro Jaya telah memeriksa polisi berinisial Brigadir M. Aksi anggota polisi lalu lintas itu sebelumnya bikin heboh karena memarahi sopir dan penumpang Transjakarta.

Saat ditemui Kamis (26/3), Brigadir M tak mau menjelaskan panjang lebar terkait kronologi peristiwa marahi sopir busway. "Saya sudah serahkan dan ceritakan ke komandan saya," ujar Brigadir M.

Lantas Brigadir M tak banyak bicara. Dia lebih banyak diam saat ditanya siapa identitas pemotor yang melapor kepada dirinya.

Sementara Kabag Penum Mabes Polri Kombes Rikwanto mengatakan, kejadian anggota Polantas Polda Metro Jaya bela pemotor dan salahkan Transjakarta diawali dengan insiden kecelakaan kecil. Menurut dia, Transjakarta yang sarat penumpang itu menyenggol motor di Semanggi.

"Sepeda motor lapor polisi, kemudian (Transjakarta) dikejar dan dihentikan. Akan ditanyakan surat tidak diberi," kata Rikwanto.

Dia melanjutkan, dalam kasus tersebut masyarakat melihat sebuah hambatan perjalanan mereka. Tidak tahu menahu kondisi awal kenapa polisi menghentikan Transjakarta tersebut. Rikwanto juga menjelaskan akhirnya polisi tidak jadi menilang sopir Transjakarta itu.

Polisi akan mengusut lebih lanjut. Jika ternyata motor itu yang melanggar karena masuk jalur busway, tentu akan dikenai sanksi. "Motor tentu dilarang masuk jalur busway," katanya.

Peristiwa ini bikin heboh setelah kejadian penilangan ini diunggah ke Youtube. Dalam video itu, polisi membentak sopir Transjakarta dan penumpang. Video berdurasi 1:34 menit itu membuat masyarakat geram.

Dalam video itu menceritakan seorang polisi lalu lintas malah menyalahkan sopir Transjakarta karena senggolan dengan motor yang melintas busway. Padahal jelas-jelas pemotor dilarang melewati jalur Transjakarta.

Para penumpang di dalam Transjakarta itu pun geram. Mereka meneriaki polisi kalau motor yang salah.

"Bapak ibu mohon maaf, saya ini roda dua, ini roda empat," kata pemotor itu.

"Tapi bapak salah terobos jalur busway dan nggak pake helm," teriak penumpang.

"Oke oke sabar-sabar," kata pemotor itu.

Penumpang semakin gerah dengan ulah polisi dan pemotor itu. Namun dengan lantang, polisi itu tiba-tiba membentak-bentak dan seakan berhak untuk menentukan siapa yang salah antara pemotor dengan sopir Transjakarta.

"Saya berhak, saya berhak, saya berhak!," teriak Polantas itu dengan keras kepada penumpang.

"Saya petugas di sini saya berhak, ayo semua turun, saya berhak, saya alihkan," teriak polisi itu lagi. (merdeka)
-