Lokalzone - Ribuan rakyat yang berasal dari Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak,
Kabupaten Buleleng, Bali, memblokade jalan utama Singaraja-Gilimanuk
untuk menuntut hak atas tanah yang telah diperjuangkan sejak sejak 22
tahun silam, Kamis (7/11/2013).
Aksi massa yang didominasi oleh para petani, nelayan dan masyarakat adat mendesak Gubernur Bali dan Bupati Buleleng untuk menemuinya dan berdialog soal pemenuhan hak rakyat atas tanah di Desa Sumberklampok tersebut.
Aksi yang awalnya adalah melakukan doa bersama antara umat Hindu dan Islam yang dihadiri oleh unsur Muspika dan ketua DPRD Kabupaten Buleleng di Banjar Sumber Batok, Sumberklampok.
Namun, massa kecewa karena Gubernur Bali, Bupati Buleleng, serta Ketua DPRD Bali, tidak hadir untuk melakukan doa bersama tersebut sekaligus membahas persoalan hak atas tanah di Sumberklampok.
Massa yang kecewa atas tidak adanya itikad baik dari Pemprov Bali itu akhirnya memblokade jalan utama poros Singaraja-Gilimanuk pada pukul 11.00 Wita dengan jumlah massa sebanyak 3000 orang.
Massa menuntut agar Pemprov Bali dan Pemda Buleleng berpihak pada rakyat Sumberklampok dengan memberikan hak atas tanah kepada rakyat yang berasal dari tanah terlantar seluas 624 Hektare.
"Rakyat Sumberklampok menggunakan pohon-pohon yang ditumbangkan, tenda serta menggunakan spanduk untuk menutup jalan, dan kami akan bertahan sampai tuntutan kami dipenuhi Gubernur Bali," kata Kepala Desa Sumberklampok Putu Artana.
Kepala Departemen Politik dan Jaringan Konsorsium Pembaruan Agraria DD Shineba mengatakan, aparat keamanan melakukan tindakan pencegahan kekerasan terhadap masa aksi.
"Kami berharap tidak ada provokasi dari aparat keamanan untuk membenturkan petani dengan pengguna jalan sehingga konflik horisontal bisa dihindarkan," katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat dan sekretaris KPA Bali Made Indrawati mengatakan, doa bersama dan aksi blokade jalan itu merupakan peringatan kepada segenap pengambil keputusan di Bali, khususnya Gubernur Bali untuk segera memberikan pengakuan dan rekomendasi hak atas tanah bagi segenap warga masyarakat.
"Dua puluh dua tahun kami berjuang dengan segala upaya sudah kami lakukan, namun selalu saja alasan Gubernur untuk menghindar," ujarnya. (kompas)
Aksi massa yang didominasi oleh para petani, nelayan dan masyarakat adat mendesak Gubernur Bali dan Bupati Buleleng untuk menemuinya dan berdialog soal pemenuhan hak rakyat atas tanah di Desa Sumberklampok tersebut.
Aksi yang awalnya adalah melakukan doa bersama antara umat Hindu dan Islam yang dihadiri oleh unsur Muspika dan ketua DPRD Kabupaten Buleleng di Banjar Sumber Batok, Sumberklampok.
Namun, massa kecewa karena Gubernur Bali, Bupati Buleleng, serta Ketua DPRD Bali, tidak hadir untuk melakukan doa bersama tersebut sekaligus membahas persoalan hak atas tanah di Sumberklampok.
Massa yang kecewa atas tidak adanya itikad baik dari Pemprov Bali itu akhirnya memblokade jalan utama poros Singaraja-Gilimanuk pada pukul 11.00 Wita dengan jumlah massa sebanyak 3000 orang.
Massa menuntut agar Pemprov Bali dan Pemda Buleleng berpihak pada rakyat Sumberklampok dengan memberikan hak atas tanah kepada rakyat yang berasal dari tanah terlantar seluas 624 Hektare.
"Rakyat Sumberklampok menggunakan pohon-pohon yang ditumbangkan, tenda serta menggunakan spanduk untuk menutup jalan, dan kami akan bertahan sampai tuntutan kami dipenuhi Gubernur Bali," kata Kepala Desa Sumberklampok Putu Artana.
Kepala Departemen Politik dan Jaringan Konsorsium Pembaruan Agraria DD Shineba mengatakan, aparat keamanan melakukan tindakan pencegahan kekerasan terhadap masa aksi.
"Kami berharap tidak ada provokasi dari aparat keamanan untuk membenturkan petani dengan pengguna jalan sehingga konflik horisontal bisa dihindarkan," katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat dan sekretaris KPA Bali Made Indrawati mengatakan, doa bersama dan aksi blokade jalan itu merupakan peringatan kepada segenap pengambil keputusan di Bali, khususnya Gubernur Bali untuk segera memberikan pengakuan dan rekomendasi hak atas tanah bagi segenap warga masyarakat.
"Dua puluh dua tahun kami berjuang dengan segala upaya sudah kami lakukan, namun selalu saja alasan Gubernur untuk menghindar," ujarnya. (kompas)
Buleleng - Peristiwa - Sosial
![]() |
| (Gambar Ilustrasi) |
Lokalzone - Ketua Komisi I DPRD Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, Made Arjaya mengemukakan perlunya pembentukan suatu tim untuk membahas dan menyikapi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Bali, karena telah mengakibatkan pro dan kontra masyarakat.
Tim yang dibentuk tersebut harus terdiri atas anggota DPRD, lembaga eksekutif, para tokoh masyarakat, dan pemuka adat.
“Kami berencana membentuk sebuah tim untuk membahas dan menyikapi pro dan kontra KSPN di Bali,” katanya di Denpasar, saat menyampaikan pendapatnya pada Sarasehan Pembangunan Bali ke Depan, di Denpasar, Selasa (5/11).
Ia mengatakan, dengan pembentukan tersebut, kawasan yang telah ditentukan menjadi KSPN di Bali oleh Pemerintah Pusat bisa dibahas. Karena pihaknya belum tahu sepenuhnya apa isi dalam KSPN tersebut.
Politikus PDI-P ini mengatakan Pemerintah Pusat semestinya sebelum menentukan KSPN, khususnya di Bali, terlebih dahulu melakukan sosialisasi dan pembahasan bersama pemangku kepentingan di Pulau Dewata itu.
“Biar tidak seperti sekarang ini yang terjadi pro dan kontra di masyarakat dalam menyikapi KSPN di Bali,” katanya seraya mengatakan Bali memerlukan dana penataan lingkungan sehingga wisatawan yang datang merasa aman dan nyaman, akan tetapi, katanya, perlu diingat bahwa di Bali ada wilayah-wilayah tertentu disakralkan.
Ia mengatakan, Bali telah memiliki peraturan yang tertuang dalam Perda RTRW. Di peraturan tersebut juga mengatur daerah-daerah yang disakralkan atau disucikan.
Karena itu, kata dia, untuk mencari jalan keluar atas pro dan kontra menyikapi KSPN di Bali yang banyaknya 11 wilayah dari 88 KSPN di Indonesia itu, harus membuat tim pembahasan untuk menerima atau menolak keberadaan KSPN di Bali.
“Untuk mendapatkan solusi keberadaan KSPN di Bali adalah membentuk tim yang terdiri dari anggota dewan, eksekutif, dan tokoh-tokoh masyarakat,” katanya.
Dihentikan
Sementara itu dalam kesempatan yang sama Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali meminta berbagai pihak menghentikan polemik soal penetapan Besakih, Gunung Agung dan sekitarnya di Kabupaten Karangasem sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.
“Jangan polemik terus diperpanjang, mari lakukan langkah nyata dan bentuk tim, atau bila perlu dilakukan judicial review karena itu merupakan salah satu produk pemerintah,” kata Petajuh (Wakil) Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali Dewa Ngurah Swasta.
Menurut dia, antara kawasan suci dan kawasan pariwisata sesungguhnya bukanlah hal yang perlu dipertentangkan. Aturan kawasan sucilah yang patut dijadikan acuan untuk mengatur kawasan wisata.
Beberapa waktu terakhir, Besakih, Gunung Agung, dan kawasan sekitarnya di Kabupaten Karangasem disoroti berbagai kalangan supaya dikeluarkan dari status KSPN karena dinilai dapat mengganggu nilai kesuciannya dan PP itu dianggap celah munculnya fasilitas pariwisata di sekitar tempat suci.
“Jangan gara-gara KSPN menjadi persoalan besar diantara kita masyarakat Bali dan akan berdampak psikologis yang berkepanjangan,” ujarnya seraya minta pimpinan tingkat provinsi yang mengkoordinasikan dengan desa pakraman (adat) di Bali. (suarapembaruan)
Tim yang dibentuk tersebut harus terdiri atas anggota DPRD, lembaga eksekutif, para tokoh masyarakat, dan pemuka adat.
“Kami berencana membentuk sebuah tim untuk membahas dan menyikapi pro dan kontra KSPN di Bali,” katanya di Denpasar, saat menyampaikan pendapatnya pada Sarasehan Pembangunan Bali ke Depan, di Denpasar, Selasa (5/11).
Ia mengatakan, dengan pembentukan tersebut, kawasan yang telah ditentukan menjadi KSPN di Bali oleh Pemerintah Pusat bisa dibahas. Karena pihaknya belum tahu sepenuhnya apa isi dalam KSPN tersebut.
Politikus PDI-P ini mengatakan Pemerintah Pusat semestinya sebelum menentukan KSPN, khususnya di Bali, terlebih dahulu melakukan sosialisasi dan pembahasan bersama pemangku kepentingan di Pulau Dewata itu.
“Biar tidak seperti sekarang ini yang terjadi pro dan kontra di masyarakat dalam menyikapi KSPN di Bali,” katanya seraya mengatakan Bali memerlukan dana penataan lingkungan sehingga wisatawan yang datang merasa aman dan nyaman, akan tetapi, katanya, perlu diingat bahwa di Bali ada wilayah-wilayah tertentu disakralkan.
Ia mengatakan, Bali telah memiliki peraturan yang tertuang dalam Perda RTRW. Di peraturan tersebut juga mengatur daerah-daerah yang disakralkan atau disucikan.
Karena itu, kata dia, untuk mencari jalan keluar atas pro dan kontra menyikapi KSPN di Bali yang banyaknya 11 wilayah dari 88 KSPN di Indonesia itu, harus membuat tim pembahasan untuk menerima atau menolak keberadaan KSPN di Bali.
“Untuk mendapatkan solusi keberadaan KSPN di Bali adalah membentuk tim yang terdiri dari anggota dewan, eksekutif, dan tokoh-tokoh masyarakat,” katanya.
Dihentikan
Sementara itu dalam kesempatan yang sama Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali meminta berbagai pihak menghentikan polemik soal penetapan Besakih, Gunung Agung dan sekitarnya di Kabupaten Karangasem sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.
“Jangan polemik terus diperpanjang, mari lakukan langkah nyata dan bentuk tim, atau bila perlu dilakukan judicial review karena itu merupakan salah satu produk pemerintah,” kata Petajuh (Wakil) Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali Dewa Ngurah Swasta.
Menurut dia, antara kawasan suci dan kawasan pariwisata sesungguhnya bukanlah hal yang perlu dipertentangkan. Aturan kawasan sucilah yang patut dijadikan acuan untuk mengatur kawasan wisata.
Beberapa waktu terakhir, Besakih, Gunung Agung, dan kawasan sekitarnya di Kabupaten Karangasem disoroti berbagai kalangan supaya dikeluarkan dari status KSPN karena dinilai dapat mengganggu nilai kesuciannya dan PP itu dianggap celah munculnya fasilitas pariwisata di sekitar tempat suci.
“Jangan gara-gara KSPN menjadi persoalan besar diantara kita masyarakat Bali dan akan berdampak psikologis yang berkepanjangan,” ujarnya seraya minta pimpinan tingkat provinsi yang mengkoordinasikan dengan desa pakraman (adat) di Bali. (suarapembaruan)
Bali - Pariwisata
Lokalzone - Setelah
menerima berbagai masukan dari sejumlah tokoh, praktisi, para akademsi,
dan lembaga adat serta lembaga agama soal pro dan kontra Besakih-Gunung
Agung dan sekitarnya sebagai Kawasan Strategi Pariwisata Nasional
(KSPN), Gubernur Bali Made Mangku Pastika sepakat membentuk tim.
Hal
itu dikatakan Made Mangku Pastika saat memberi masukan pada acara
Sarasehan ‘’Pembangunan Pariwisata Bali ke Depan’’, Selasa (5/11) di
Jaya Sabha, Denpasar.
Sebelumnya,
sejumlah tokoh seperti Prof. Wayan Wita, Putu Wirata Dwikora, Tjokorde
Gde Pemecutan, Prof. Made Bakta, Dekan Fakultas Pariwisata Unud Putu
Anom, mengingingkan diantara 11 KSPN yang telah ditetapkan di Bali,
hanya kawasan KSPN Besakih yang dicoret dari list 11 Peraturan
Pemerintah No. 50 tahun 2010.
Pencoretan nama
Besakih dan sekitarnya sebagai KSPN karena kawasan tersebut disucikan
berdasarkan Perda Propvinsi Bali. Karena itu, peserta meminta kawasan
itu di bawa jauh dari kawasan Besakih, misalnya di kawasan Bukit Jambul.
Selain Gubernur
sepakat membentuk tim pembahas KSPN Besakih dan sekitarnya, mantan
Kapolda Bali ini menanggapi secara serius soal kisruh kawasan strategis
pariwisata nasional (KSPN) Besakih yang menjadi bahan perguningan selama
ini.
Usai
bertemu dengan para pakar, tokoh agama, aktifis, dalam diskusi soal pro
kontra KSPN Besakih, akhirnya Pastika mengambil sikap tegas. Ia menolak
dengan tegas pemberlakuan Peratutan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010
tentang Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) untuk diberlakukan
di Bali.
Bahkan
Pastika memastikan jika dirinya akan segera melaporka hal tersebut
kepada Presiden SBY pada Rabu (6/11/2013) saat SBY berada di Bali untuk
serangkaian acara Bali Demokrasi Forum. “Besok saya akan berbicara
kepada Presiden bahwa PP Nomor 50 Tahun 2010 tentang KSPN belum bisa
diberlakukan di Bali karena sesuatu dan lain hal. Ini bukan saya
ngambul, tetapi kondisi sosial masyarakat Bali memang demikian adanya,”
ujarnya geram.
Selain
menolak pemberlakuan PP Nomor 50 Tahun 2010, Pastika juga melarang
dengan keras agar seluruh pura di Bali dilarang untuk dikunjungi
wisatawan baik mancanegara maupun domestik.
Menurutnya,
Pura itu adalah tempat sembahyang, bukan untuk berwisata. “Pura adalah
tempat sembahyang, bukan untuk berwisata. Jangan menjadikan Pura sebagai
obyek wisata. Belum lagi di areal kawasan suci ada pedagang yang
menjual sepatu, koper, pakaian dalam wanita, lagu-lagu dangdut dan
sebagainya.
‘’Mata
saya sangat sakit melihat hal tersebut. Pura itu tidak boleh dinyatakan
sebagai daya tarik wisata. Kita ingin kelihatan status quo,” ujarnya.
Terkait
dengan larangan pemberlakuan PP Nomor 50 Tahun 2010 tentang KSPN,
Pastika meminta agar 11 KSPN yang ada di Bali dicabut semuanya. “Minimal
selama 5 tahun ke depan KSPN di Bali yang berjumlah 11 KSPN ditutup
untuk sementara. Karena semua KSPN itu ada puranya, karena akan
menimbulkan banyak masalah,” ujarnya.
Artinya,
selama 5 tahun ke depan KSPN Bali ditunda, dan turis tidak boleh masuk
pura. Dalam waktu dekat ini akan segera dibentuk tim dari berbagai
elemen masyarakat untuk mengkaji berbagai hal yang tidak diperkenankan
berlaku di Bali. (Metrobali)
Bali - Pariwisata
Lokalzone - Kawasan Industri Pulogadung (KIP), Jakarta Timur dipadati oleh ribuan
buruh. Mereka bermaksud untuk menuntut kenaikan upah menjadi Rp 3.7 juta per bulan.
Anehnya,
diantara kerumunan buruh yang konvoi menggunakan sepeda motor itu ada
salah seorang buruh yang kedapatan menunggangi sebuah moge sport Kawasaki Ninja 250. Bagaimana tidak aneh, di situs resmi kawasaki Motor Indonesia (KMI) satu unit motor baru Kawasaki Ninja 250 ini dibanderol harga Rp 52.9 juta OTR JADETABEK.
Berdasarkan
lansiran oleh merdeka.com, Jum'at (01/11), pemilik moge yang diketahui
bernama Taufiq mengaku kalau motor tersebut didapatnya dari hasil
kredit.
Pria lajang tersebut juga menuturkan kalau gajinya sekarang yang sebesar Rp 2.5 juta per bulan tidak cukup untuk menutupi biaya kredit motor. ""Kalau gaji kita jadi Rp 3,7 juta kan, jadi gak perlu lah nyari-nyari lemburan lagi. Kreditan motor juga aman sebesar Rp 1,5 juta selama tiga tahun setengah," jelas Taufiq.
Dengan kata lain, alasan dibalik permintaan kenaikan gaji Taufiq menjadi Rp 3.7 juta per bulan itu dikarenakan oleh kredit moge miliknya yang tinggi. Apa komentar Anda mengenai hal ini?
(otosia)
Demontrasi - Nasional
Lokalzone - Untuk menutup biaya hidup di Solo dan membayar biaya kuliah, Widri
jual es Sari kacang Ijo di kampusnya. Meski begitu, ia tak malu dan
malah memotivasinya belajar lebih giat. Hasilnya, laki-laki asal Sragen
itu lulus dengan predikat cumlaude.
Mengenakan pakaian olahraga berwarna merah putih, Witri Suwanto (26), menyambut kedatangan Tribun Jateng di lorong kampus Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, Rabu (30/10/2013).
Setelah
berbasa-basi, obrolan berlanjut ke acara wisuda yang digelar pada Senin
(28/10/2013). “Alhamdulillah, saya lulus dengan predikat cumlaude,”
katanya.
Warga kampung Jagan, Gentan Banaran, Plupuh, Sragen itu
lulus dari bangku kuliah setelah menyelesaikan seluruh mata kuliah di
Jurusan Pendidikan Keolahragaan, spesifikasi Tenis, selama tiga tahun
sembilan bulan. “Targetnya bisa lulus 3,5 tahun meleset,” ujar remaja
yang memeroleh nilai A pada 18 mata kuliah tersebut.
Widri
sebenarnya sudah lulus SMA pada 2006, tapi baru bisa kuliah 2009. Selama
tiga tahun, ia harus bekerja untuk menyiapkan biaya masuk kuliah. Saat
sudah resmi menjadi mahasiswa UTP, ia membiayai seluruh kebutuhan
pendidikannya dari cucuran keringat berjualan es sari kacang hijau.
Widri
menceritakan, ia mulai merintis usaha berjualan es Sari kacang hijau
sejak lulus SMA. Saat itu, ia melihat peluang berdagang di depan kampus
UTP. Setelah beberapa lama berjualan es, ia mendapat tawaran bekerja
sebagai marbot (penjaga masjid) di Masjid Kantor Pajak Yogyakarta.
Setelah
tiga tahun mengabdi bekerja di Yogyakarta dan bisa menabung. Widri pun
memutuskan hijrah ke Solo untuk mewujudkan mimpinya berkuliah dan
mendaftar di UTP Surakarta. "Gaji Rp 900 ribu dari Kantor Perpajakan dan
saat jual es, saya pakai biaya awal kuliah selama satu semester,"
ungkap bungsu dari tiga bersaudara itu.
Setelah masuk kuliah,
Widri praktis tak lagi mempunyai pendapatan untuk membiayai kuliahnya.
Uang di tangan yang tersisa Rp 800 ribu, kemudian digunakan untuk modal
berjualan es sari kacang hijau di depan kampus tempatnya belajar.
"Setelah
satu semester, saya ngga ada biaya lagi. Orangtua juga cuma tani dan
ngga sanggup membiayai. Akhirnya saya jualan sari kacang ijo dan jual
pakaian untuk mencukupi kebutuhan saya sendiri," akunya.
Bila
mahasiswa lain berangkat ke kampus sekitar pukul 07.00, Widri pun sudah
tiba di depan kampus sekitar pukul 06.00. Bukan untuk membaca buku
kuliah atau mengerjakan tugas, tapi untuk membuka lapak es sari kacang
hijau di sekitar pintu gerbang kampus.
Saat ada jam kuliah, Widri
menutup sementara lapaknya dan menitipkannya pada Satpam kampus dan
berjualan lagi setelah keluar kelas. Selain teman di kampusnya,
pelanggan setianya adalah para dosen di UTP. Bahkan banyak di dosen
pelanggannya yang memberikan uang lebih saat membeli es sari kacang
hijaunya.
Selama berjualan es di kampus, Widri kadangkala harus
menanggung rugi karena cuaca tidak bersahabat. Bila menghadapi situasi
seperti itu, laki-laki itu pun memilih membagikan es kacang hijau pada
teman-teman kuliahnya secara gratis.
Biasanya, lanjut Widri,
sehari setelah membagi-bagikan es kacang hijaunya, dagangannya malah
makin lancar dan laris. “Kalau rata-rata, sehari bisa mendapat
keuntungan sekitar Rp 100 ribu. Cukup untuk biaya kuliah dan biaya hidup
di Solo,” katanya.
Meski harus berjualan es di depan kampusnya
dan para konsumennya adalah teman kuliahnya, Widri mengaku tidak pernah
merasa rendah diri. Bahkan, ia makin termotivasi untuk belajar lebih
baik. Hasilnya, ia berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam tiga
tahun sembilan bulan dengan predikat cumlaude.
Sebagai bentuk suka
citanya menyelesaikan kuliah, setelah resmi diwisuda Senin (28/10/2013)
lalu, Widri memenuhi nazarnya menggenjot becak dari Solo menuju Sragen
dalam waktu empat jam.
Kini, putra ketiga dari pasangan Paino
Notowiyono dan Mulyati tersebut ingin merantau ke Australia untuk
belajar beternak sapi. Untuk mendukung cita-citanya, Widri kini harus
bolak balik Solo-Kediri untuk kursus bahasa Inggris.
"Aku punya jiwa wirausaha yang tinggi dan menurutku beternak sapi itu prospeknya bagus," tandas peraih IPK 3,55. (tribunnews)
Nasional - Sosial
Langganan:
Postingan (Atom)










