Select Menu
Buah Unggul
Diberdayakan oleh Blogger.

Buleleng

Bali

‹
›

Teknologi

Lifestyle

Nasional

Videos

Lokalzone - Aldi Taher akhirnya buka suara mengenai sakit kanker getah bening yang dideritanya. Bersama dengan Georgia, sang istri, Aldi pun menceritakan bagaimana awal mula dirinya mengetahui terkena penyakit tersebut.

"Aldi mau konfirmasi bahwa Aldi lagi berjuang melawan kanker untuk kesembuhan, tanggal 24 kemarin sudah kemoterapi. Aldi kena kanker getah bening. Alhamdulillah berkat doa orangtua dan support keluarga, Aldi berjuang untuk kesembuhan," kata Aldi saat ditemui di kediamannya, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (26/10/2016) malam.

"Ketahuannya tiga bulan lalu, Aldi merasakan pegal di leher pas diraba ada benjolan. Istri bilang periksa ke dokter. Setelah itu dicek biopsi di lab diagnosisnya kanker kelenjar getah bening, Aldi tetap semangat dan berdoa semoga kemonya lancar," lanjutnya sambil berkaca-kaca.

Sesaat setelah mengetahui penyakit tersebut, Aldi dianjurkan untuk banyak istirahat. Bukan hanya itu, mantan suami Dewi Persik ini juga disarankan untuk menjalankan pola hidup sehat.

"Dapat masukan dari Ria Irawan, banyak tanya jawab cancer survivor lain dan yang pasti kurangi kegiatan juga banyak makan buah. Yang pasti bismillah dan tetap semangat," bebernya.

Sejauh ini, Aldi sendiri sudah menjalankan kemoterapi sebanyak empat kali. Anjuran dokter ia harus menjalankan kemoterapi sebanyak enam kali.

"Katanya dokter ini stadium satu," ujar Aldi. Tentang penyakitnya ini, Aldi juga sudah memberitahu teman-temannya yang tergabung dalam grup Trio Ubur-Ubur.

"Pada kaget (Trio Ubur-Ubur), jujur sih Aldi juga kaget dan sedih cuma harus semangat," paparnya.
-
Bali, lokalzone - Kasus pencurian terjadi di Kecamatan Tegalalang. Kemalangan ini melanda, Ketut Preped (37) di depan Kantor Peternakan, Banjar Tegal Suci, Desa Sebatu, Tegalalang.

Kapolsek Tegalalang, AKP Putu Gede Sudarma, Rabu (26/10/2016) mengatakan, pencurian tersebut terjadi saat korban memarkir sepeda motor Honda Beat DK 7971 KC di depan Kantor Peternakan, Selasa (25/10/2016) pukul 07.00 wita.

Dalam kesehariannya, korban memang kerap memarkir motor di sana, karena bekerja sebagai perajin dengan pondok kerajinannya berada di sebelah kantor tersebut.

Usai bekerja, sekitar 15.00 wita, korban ingin mengambil motornya. Namun saat mendatangi areal parkir kantor peternakan, sepeda motor miliknya sudah lenyap. Korban sempat melakukan pencarian di seputaran lokasi bersama warga lainnya.

Tetapi sayang  hasilnya nihil. Aksi ini selanjutnya dilaporkan ke Mapolsek Tegalalang. AKP Sudarma mengatakan kini pihaknya masih melakukan penyelidikan.

Dugaan sementara pelaku berhasil melarikan sepeda motor tersebut menggunakan kunci palsu. “Dugaan kami pelaku beraksi dengan kunci palsu, karena kunci aslinya masih dibawa korban. Hingga kini anggota masih bergerak di lapangan menyelidiki kasus ini, “ tandasnya
-
Bali, Lokalzone - Duit pecahan Rp 2.000 hingga Rp 10 ribu hasil sitaan dari pengemis di Denpasar satu persatu dihitung oleh petugas Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Denpasar, Bali, belum lama ini.

Selesai menghitung jumlah uang dan jumlah pengemis yang didata, rupanya masing-masing pengemis yang kerap berkeliaran di Denpasar bisa mendapatkan uang rata-rata Rp 300 ribu per hari atau Rp 9 juta per bulan.

Kepala Dinsosnakertrans Kota Denpasar, IGA Rai Anom Suradi, mencurigai adanya orang-orang yang mengekploitasi para pengemis yang berkeliaran di Kota Denpasar.

Kecurigaan itu muncul lantaran para pengemis di Denpasar yang sebagian besar kaum disabilitas, namun bisa bolak balik Jawa-Bali.

Mereka rata-rata sudah sempat dipulangkan berkali-kali namun kembali lagi ke Bali.

“Sehari, rata-rata pengemis di Denpasar ini dapat Rp 300 ribu. Pernah kita tangkap berkali-kali makanya kita tahu. Itu per orang ya, sama dengan gaji kepala dinas dia dapat. Kuat dugaan kita, ini pasti ada yang mengekploitasi,” ungkap Anom Suradi saat ditemui di Kantor Dinsosnakertrans Kota Denpasar, Rabu (26/10/2016) siang.

Bahkan, pada 20 Oktober kemarin, Suradi mengaku kembali menerima lima orang pengemis yang ditangkap Satpol PP Kota Denpasar di depan Alfamart Jalan Surapati, Denpasar.

Fantastis, salah satu pengemis bernama Busadi, asal Situbondo, Jawa Timur, itu kedapatan membawa uang sebesar Rp 4,744 juta.       

Uang tersebut dikatakan didapat selama satu minggu hasil mengemis keliling. Sedangkan, empat pengemis lainnya hanya membawa uang tiga ratus ribuan.

“Uangnya kita sita agar nantinya si pengkoordinirnya datang ke kantor. Kalau datang kan kita tahu siapa yang mengkoordinir, apakah ada hubungan keluarga, kalau ada, kita minta KTP-nya. Tapi ternyata tidak ada yang datang ke kita. Jadi tujuan kita ada dua, untuk memberikan efek jera. Kalau kita sita kan percuma dia ngemis, dan setelah kita kembalikan ke daerah asal agar tidak balik lagi. Kedua kita ingin tahu siapa yang mengeksploitasi orang-orang ini,” jelas Anom Suradi sembari mengaku dinas sosial tidak akan mengambil uang tersebut sepeserpun.

Setelah menyita duit para pengemis itu, Suradi mengaku pihaknya sudah memulangkan semua pengemis tersebut ke daerah asalnya melalui Dinas Sosial Provinsi Bali.

Suradi menjelaskan, apabila memulangkan pengemis dari luar Bali, harus melalui Dinas Sosial Provinsi Bali. “Iya karena SOP (Standar Operasional Prosedur)-nya begitu,” kata Anom Suradi.

“Yang bawa uang banyak itu ditangkap di tengah kota, di Banjar Kayumas di depan Alfamart itu. Jadi mereka ada yang bawa tongkat, buntung, dan lain sebagainya. Kita curiganya ada yang mengeksploitasi. Karena mereka disabilitas kok bisa bolak balik Jawa-Bali terus,” jelas Suradi.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali, I Nyoman Wenten, mengatakan para pengemis yang dikirim oleh dari Dinsos Denpasar ke Dinsos Provinsi sudah dipulangkan ke daerahnya melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.

Hanya saja, apabila ada pengemis yang dari Jawa Barat, pihaknya hanya mengirim sampai ke Provinsi Jawa Timur.

“Kalau gepeng antar-provinsi, memang itu bisa dibawa ke provinsi dan provinsi mengirim ke Dinas Sosial Provinsi yang bersangkutan. Jadi provinsi bersangkutan mengirim ke rumah asalnya. Kalau misalnya dia dari Jawa Barat, kita antar sampai ke Jawa Timur saja,” kata Wenten saat dihubungi melalui sambungan telepon.
-
Lokalzone - Istri Irman Gusman, Liestyana Gusman, memberi kesaksian tentang proses operasi tangkap tangan (OTT) yang dialami suaminya dalam sidang praperadilan hari ini. KPK berpendapat bahwa sesuai putusan MA, pemeriksaan pada saat sidang praperadilan hanya masalah formil atau formalitas.

"Dalam pasal 168 dan 169 KUHAP, seorang saksi yang memiliki status perkawinan sebagai istri pemohon seharusnya tidak bisa memberikan keterangan kalau di KUHAP, demikian pasal 55 menyebutkan dalam pemeriksaan pokok istri atau suami harus ada persetujuan terdakwa dan penuntut umum," kata Kabiro Hukum KPK Setiadi di PN Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2016).

"Jadi kapasitas sebagai saksi bagi kami tidak begitu amat penting, yang kami di luar yang memiliki hubungan darah," lanjut Setiadi.

Menurut Setiadi, apa yang disampaikan oleh Liestyana sebagai saksi hanya sekadar informasi.

Terkait tidak adanya surat penangkapan saat OTT yang disebut oleh Liestyana Gusman, Setiadi berpendapat bahwa petugas KPK saat melakukan OTT sudah sesuai prosedur dan ketentuan KUHAP, bahwa ada pihak pemberi dan penerima dan yang bersangkutan membenarkan telah membawa atau menerima bingkisan atau hadiah dalam bentuk apapun.

"Karena OTT tidak mewajibkan adanya surat itu (penangkapan), kalau kami balik dulu ke kantor lagi ya hilang kesempatan itu," tuturnya.

Dalam kesaksiannya, Liestyana mengatakan bahwa bungkusan berisi uang Rp 100 juta yang diterima suaminya berbentuk bingkisan. Liestyana membantah membawa uang tersebut ke lantai 2 rumahnya dan hanya menyentuh uang saat membuka bingkisan tersebut setelah Irman menyuruh membawa bingkisan tersebut turun.

"Masalah uang menurut keterangan penyidik bahwa bingkisan atau bungkusan itu beda, bungkusan belum tentu bingkisan, tapi kalau bingkisan sudah pasti bungkusan, bungkusan dibawa ke atas dan dalam perjalanan turun dibuka dan itu sesuai dengan pertanyaan penyidik, tidak mungkin uang itu jalan sendiri pasti ada yang bawakan, siapa yang bawa dari lantai 1 ke lantai 2 kan," tutupnya.
-
Lokalzone - Sebelum kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta dimulai, Anies Baswedan hari ini kembali ke Yogyakarta. Anies pulang ke rumah ibunya di Jl Kaliurang Km 5,5, Sleman untuk bertemu dengan ibunya untuk meminta restu.

"Saya ke Yogya, karena besok sudah mulai masa kampanye di Jakarta. Hari terakhir sebelum masa kampanye, saya perlu kembali ke Yogya untuk mengunjungi ibu. Saya pulang ke rumah untuk minta doa restu pada ibu," kata Anies kepada wartawan seusai nyekar di makam Pangsar Jenderal Sudirman di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, Yogyakarta, Kamis (27/10/2016).

Anies mengatakan dirinya juga datang ke makam Pangsar Jenderal Sudirman karena keteladanannya saat berjuang. Bagi Anies sendiri, TMP Kusumanegara adalah tempat yang tidak asing. Saat bersekolah di Yogyakarta mulai dari SD, SMP dan SMA, dia sering menggelar berbagai kegiatan di TMP Kusumanegara di Semaki.

"Saya perlu datang ke sini. Beliau adalah seorang guru yang kemudian memilih meneruskan perjuangan bukan lewat jalur pendidik tapi militer saat pergerakan perlawanan pasca proklmasi," kata mantan Ketua Senat Mahasiswa UGM itu.

Menurut dia, kepemimpinan Sudirman saat itu adalah orang yang sopan, hormat kepada orang lain, halus tutur katanya dan bersahaja namun tegas.

"Beliau orang yang bersahaja dan bisa menjadi inspirasi kita semua. Kalau dilihat background beliau adalah seorang pendidik," katanya.

Anies kemudian menceritakan bila keluarga Sudirman punya hubungan dekat dengan keluarga AR Baswedan kakeknya. Ibu Sudirman adalah teman neneknya selama tinggal di Yogyakarta.

"Pak Dirman dan kakek sama-sama pejuang. Pak Dirman wafat di usai muda, tapi persahabatan Bu Dirman dengan nenek terus berjalan. Usia mereka tidak jauh selisihnya. Saya ingat beberapa kali mengantar nenek ke rumah Bu Dirman," tutur Anies. 
-