Select Menu
Buah Unggul
Diberdayakan oleh Blogger.

Buleleng

Bali

‹
›

Teknologi

Lifestyle

Nasional

Videos

LokalZone - Sebanyak 20 buah t-shirt atau baju kaos diamankan polisi dari sejumlah anak muda di Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Kaos oblong warna hitam itu bergambar palu dan arit.

Mencuatnya penggunaan gambar palu dan arit pada gambar baju oblong warna hitam setelah diunggah melalui media sosial. Polisi melakukan penelusuran dan menemukan baju kaos dengan siluet gambar orang memegang palu dan arit serta tulisan The New Predator milik anak muda dari Desa Penyabangan Kecamatan Gerokgak.

Kepala Bagian Operasional Polres Buleleng, Kompol I Ketut Gelgel, Selasa (18/08/2015) siang membenarkan telah melakukan penyitaan terhadap 20 buah baju kaos dengan gambar palu arit tersebut.

“Sebenarnya anak-anak muda itu mengambil gambar dalam judul film sebenarnya, Jack The Ripper, dalam judul itu berlogo palu arit dan bertuliskan predator kemudian diunggah ke facebook, baju ini yang punya muda-mudi dari penyabangan, mereka tidak sadar gambar itu dilarang oleh pemerintah, sehingga bajunya disita,” papar Kabag Ops.

Kabag Ops Ketut Gelgel mengatakan, upaya pendekatan secara persuasif dilakukan kepolisian dan anak muda dari Desa Penyabangan tidak mengetahui adanya larangan mengunakan gambar palu dan arit.

“Mereka sudah menyadari dan sudah diserahkan kepada Kapolsek langsung baju-baju yang berlogo itu dan sudah dilakukan pembinaan oleh kapolsek karena lambang itu dilarang oleh pemerintah dan 2010 itu baju itu sudah ada malah dipakai gerak jalan,” papar Gelgel.

Dalam penanganan kasus pengunaan gambar palu arit tersebut oleh Polsek Gerokgak hanya dilakukan penyitaan sejumlah 20 baju kaos yang diserahkan langsung beberapa anak muda dari Desa Penyabangan, dan kemudian diberikan pembinaan, namun polisi tetap akan melakukan pengawasan dan pemantauan.
-
LokalZone - Kadek Adi Widiantara alias Simon, 17, siswa kelas XII di SMA N 1 Singaraja, dengan alamat di Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan meloncat dari ruang kelasnya yang berada di lantai 3, Rabu (12/8/2015) pukul 06.45 pagi lantaran masalah sepele cek-cok dengan kekasihnya yang baru diajak jadian sekitar dua mingguan.

Hal tersebut terungkap dari isi surat yang ditinggalkan korban kepada pacarnya yang diketahui bernama Indy yang ditinggalkan dimeja belajar yang menyebutkan dirinya akan segera mengakhiri hidupnya padahal perselisihan keduannya hanya dipicu masalah mengganti foto display picture (DP) pada blackberry messenger (BBM), dan secara kebetulan pula DP BBM itu sama dengan seorang wanita lain sehingga memicu rasa cemburu dari kekasihnya.

"Hari ini 12 Agustus 2015 sepertinya aku sudah hidup di alam yang lain ndy...... Hari ini kamu gak mau bicara sama aku, ok gak apa-apa, aku mungkin salah, salah pencet di waktu yang tidak tepat Hanya karena DP sama jadi aku janjian gitu? Aku gak bakalan selingkuh sayang," tulis korban sebagai pesan terakhir yang ditinggalkannya.

Dalam surat tersebut juga terungkap bahwa hubungan keduannya masih seumuran jagung, dua mingguan namun korban nekat terjun dari lantai 3 hingga mengalami luka berat pada bagian kepala dan patah tulang leher hingga terpaksa dirujuk ke RSUD Sanglah Denpasar dan akhirnya tidak tidak bisa diselamatkan lagi.

Sementara itu Kepala SMAN 1 Singaraja Putu Eka Wilantara di hari itu juga langsung melaporkan permasalahan tersebut kepada pihak Kepolisian untuk ditangani secara intensif. "Kami kurang tahu penyebab pastinya bagaimana. Teman-temannya juga tidak ada yang tahu, hanya tahu setelah jatuh di taman. Selanjutnya kami serahkan kepada pihak kepolisian," kata Wilantara saat ditemui di Mapolres Buleleng.

Disisi lain menindak lanjuti kejadian tersebut aparat Kepolisian dari Unit Identifikasi serta Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Buleleng langsung melakukan olah TKP termasuk memeriksa sedikitnya lima orang saksi diantaranya Kepala Sekolah, dua orang siswa, seorang guru, dan seorang petugas kebersihan, serta surat cinta yang diduga dibuat oleh korban sesaat sebelum bunuh diri.

“Ini baru penyelidikan awal. Kami masih dalam proses pengembangan kasus,” ujar Kasat Reskrim AKP Ketut Adnyana TJ ketika diminta kornfirmasi terkait kejadian tersebut.
- -
LokalZone - Untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali, dimana seorang nelayan dari Desa Tejakula yang menghilang tanpa jejak di tengah lautan dan hingga kini masih belum diketahui keberadaannya, Kapolres Buleleng AKBP Kurniadi didampingi Kasat Polair AKP Putu Ariana melakukan tatap muka bersama kelompok nelayan dan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Buleleng, Kamis (6/8/2015) untuk mencari permasalahan yang dihadapi di tengah laut. 

Dalam pertemuan tersebut terungkap salah satu kendala yang sering kali dihadapi oleh para nelayan saat mencari ikan adalah kesulitan untuk melakukan komusikasi pasalnya tidak ada sinyal handphone di laut lepas. "Kalau menelpon ke Jakarta melalui darat bisa, tapi kalau nelpon rekan sesama nelayan ditengah laut walau perahunya kelihatan tidak akan bisa, karena tidak ada sinyal," keluh Syarifudin selaku ketua kelompok nelayan di Desa Kaliasem.

Menanggapi hal tersebut Kepala Bidang Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Ir. Eddy Sutrisno mewakili Kepala Dinas Perikanan Dan Kelautan Ir. Nyoman Sutrisna, MM meminta kepada para nelayan untuk mempergunakan bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah pusat berupa peralatan navigasi berupa GPS.

"Kepada para nelayan yang sudah mendapatkan bantuan berupa GPS dari pusat mohon di manfaatkan secara maksimal dan apabila tidak dimengerti silakan dikoordinasikan kepada kami kembali," ujar Eddy Sutrisno.

Namun selain alat komunikasi dan navigasi masalah cuaca juga tidak kalah pentingnya dan seringkali menjadi penyebab nelayan salah arah bahkan menghilang ditengah laut. Untuk mencegah hal tersebut Satuan Polisi Perairan (Polair) Buleleng bekerjasama dengan Diskanla akhirnya memutuskan untuk membentuk jaringan komunikasi agar dapat memberikan himbauan dengan cepat dan tepat kepada nelayan sebelum berlayar.

"Hasil tatap muka tadi kami menyepakati pembentukan forum komunikasi masyarakat pesisir dibawah komando Polair, intinya untuk dapat sejepatnya memberikan himbauan kepada para nelayan apabila cuaca buruk. Hal ini untuk mencegah terjadinya nelayan hilang ditengah laut," papar Kapolres Kurniadi usai melaksanakan kegiatan tatap muka.
-
LokalZone - Ulah Supriyanto (47), warga Sidoarjo, Jawa Timur, dengan mencuri uang di SPBU Anturan sebesar Rp 52,6 Juta sepertinya membuat pusing aparat Kepolisian dari Polres Buleleng, pasalnya selain harus melakukan pengejaran hingga ke wilayah Banyuangi dan Kediri, Jawa Timur pelaku juga memberikan keterangan yang berbelit-belit. 

Berdasarkan pers release dari Kasat Reskrim Polres Buleleng AKP Ketut Adnyana TJ, Seijin Kapolres Buleleng, Rabu (5/8/2015) di Mapolres Buleleng mengungkapkan Polisi berhasil mengidentifikasi Supriyanto melalui rekaman CCTV. "Polisi mengungkap kasus ini, melalui tahap penyelidikan, dengan melihat tindakan pelaku di kamera CCTV, dan mencocokan dengan ciri-ciri tersangka. Setelah kami periksa 5 orang saksi termasuk pemilik SPBU Anturan, akhirnya kami tahu itu pelakunya dan langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku," kata AKP Adnyana TJ, didampingi Kasubbag Humas Polres Buleleng AKP Agus Widarma Putra.

Setelah melakukan aksinya Supriyanto langsung kabur menyebrang ke Pulau Jawa, "“Tersangka ini, mantan pegawai di SPBU Anturan. Pelaku mengambil uang di loker SPBU Anturan sebanyak Rp 52.600.000, pada Minggu (15/3/2015) lalu. Karena pelaku takut ketahuan, akhirnya pelaku langsung melarikan diri ke daerah Jawa Timur. Dan akhirnya ditangkap pada 1 Agustus 2015 lalu di wilayah Kediri, sebelumnya pelaku juga sempat melarikan diri ke wilayah Banyuwangi,” jelas AKP. Adnyana TJ.

Menariknya dalam pelariannya pelaku mengaku memberikan uang hasil curiannya kepada Fakir miskin yang ditemuinya di wilayah Jogja dan Sola layaknya "Robin Hood" dalam kisah dogeng. "Saya sudah 5 bulan kerja disana, saat saya ngambil saya sudah berhenti kerja. Kalau soal uang curian, saya kasik ke fakir miskin yang ada di Jogja dan Solo, dengan besaran Rp 20 ribu sampai 30 ribu per orang, secara merata," kata Supriyanto.

Namun setelah ditanyakan kembali oleh aparat Kepolisian akhirnya Supriyanto juga mengaku menggunakan uang tersebut bersama pacar sekaligus calon istrinya yang diketahui merupakan cewek cafe. "Sisanya saya pakai untuk sama pacar saya yang jadi cewek kafe, menginap di hotel dan rencananya saya mau nikah dengan dia, karena saya diusir sama istri saya di Jawa,” tutur pelaku saat release kasus di Mapolres Buleleng.

Apapun dalihnya kini Supriyanto harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan saat ini dijerat dengan Pasal 363 KUHP tentang Pencurian Dengan Pemberatan, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.
- -
LokalZone - Pagi ini, Selasa (4/8/2015) 1.028 orang siswa Polri secara resmi melaksanakan pendidikan di SPN Singaraja dengan diawali dengan upacara pembukaan yang di pimpin langsung oleh Kapolda Bali Irjen Pol. Drs. Ronny Franky Sompie, SH, MH. 

Dalam upacara pembukaan siswa pembentukan Brigadir Polri Tugas Umum T.A 2015 tersebut nampak dihadiri oleh sejumlah Muspida Buleleng seperti Bupati Buleleng yang diwakili oleh Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Gede Supriatna, Kepala Pengadilan I Wayan Merta SH., MH., Kepala Kejaksaan Negeri Singaraja Sumarjo, Ketua Bhayangkari Polda Bali beserta jajarnnya, Kapolda Bali mengingatkan kepada siswa untuk secepatnya menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan.

"Siswa dituntut untuk menimba ilmu dan menambah wawasan tentang kepolisian, siapkan fisik dan mental, kenali lingkungan, tananamkan tekat dan komitmen yang kuat. Dan saya himbau kepada para pembina untuk menjauhi tindakan kekerasan serta tindakan-tindakan yang dapat merusak moral siswa dalam pendidikan ini, supaya generasi Polri mendatang menjadi insan bhanyangkara yang profesional," ujar Kapolda Ronny Sompie didepan peserta upacara.
 
Adapun dari 1.028 siswa yang melaksanakan pendidikan di SPN Singaraja terdiri dari 751 orang merupakan pengiriman dari Polda Metro, 21 orang dari Polda Papua, dan 256 orang dari Polda Bali.

Dalam rangkaian upacara pembukaan pendidikan tersebut Kapolda Bali Irjen Pol. Ronny Sompie juga sekaligus memberikan nama Resimen Siswa "Rahandika Faras Satya" yang berarti Bhayangkara yang ksatria (pemberani) jujur dan tulus hati.
-