Lokalzone - Maraknya warung remang-remang dan dakocan di daerah Sukasada mulai mendapat perhatian dari pihak Kepolisian, khususnya Polsek Sukasada. Dengan dukungan dari para tokoh masyarakat di daerah tersebut aparat kepolisian mulai mengelar razia pengendalian kependudukan secara gabungan hingga Rabu (17/9/2014) dini hari.
Alhasil dari enam warung reman-remang yang beroperasi di Desa Ambengan dan Desa Padangbulia yang disasar di Kecamatan Sukasada, 3 orang diciduk lantaran tidak melengkapi diri dengan Surat Keterangan Lapor Diri (SKLD) diantaranya Suhaina (29) dan Sudiati (31) keduanya
dari Probolinggo Jawa Timur diamankan dari sebuah Warung Remang-Remang
di Desa Ambengan, sementara satu wanita lagi yang diciduk di sebuah
warung remang-remang di Desa Padangbulia bernama Yuyun (30) dari Sragen
Jawa Tengah. Ketiganya mengaku baru empat bulan di Bali.
“Setelah menjalani pemeriksaan di
Polsek, ketiga wanita yang belum memiliki ijin domisili itu selanjutnya
kita serahkan ke Kecamatan dan kemudian diserahkan ke desa untuk
dilakukan pembinaan,” papar Kompol I Nyoman Surita selaku Kapolsek Sukasada.
Saat ini Tim Kepolisian bersama Tim Yustisi yang dipimpin langsung oleh Kabag Ops Polres Buleleng Riza Zaisal baru menyasar dua wilayah di Kecamatan Sukasada dan rencananya akan dilakukan hal serupa secara merata di daerah-daerah yang banyak terdapat warung remang-remang. Hal ini lakukan untuk mengantisipasi secara dini adanya kerawanan sosial dan kriminalitas akibat warung remang-remang tersebut.
Buleleng
Lokalzone - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memang bisa dipicu lantaran banyak permasalahan keluarga yang timbul, namun kasus KDRT yang satu ini mungkin sedikit terdengar nyeleneh, ketika sang anak sakit si ayah justru menganiaya istrinya lantaran diduga bisa mistis.
Bahkan lantaran tidak terima dengan perlakuan dari sang suami, si istri langsung melaporkan kejadian tersebut ke kantor Polisi dan saat ini kasusnya sedang ditangani oleh Unit PPA Polres Buleleng, Senin (15/9/2014) kemarin.
Berdasarkan pengakuan korban, aksi penganiayaan tersebut bermula dari pasangan suami istri yang beralamat di Jalan Merak, Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja yang hendak berangkat menjenguk anaknya yang sedang diotnama di Rumah Sakit Kerta Usada. Saat menaiki sepeda motor sang suami, YH (43) mengumpat istrinya, F (45) dengan kata-kata "kamu kerjanya magis aja," sembari langsung dibalas oleh F dengan kata "tidak".
Jawaban tersebut rupanya membuat YH emosi hingga langsung menyiku F hingga mengenai bagian leher. Merasa keberatan F langsung turun dari kendaraan dan berjalan kaki, namun YH menyusul dan langsung memukul ke arah muka sebanyak satu kali.
Akibatnya kejadian tersebut F mengalami rasa sakit pada bagian mata kiri dan leher, hingga saat ini belum diketahui makna dari ucapan YH terkait magis yang dimaksud mengingat seorang Ibu tidak mungkin tega menyakiti anaknya, apalagi hingga saat ini belum ada pembuktian yang realistis tentang magis yang dimaksud.
Buleleng - Mistis
Lokalzone - Masalah
pelayanan medis kepada pasien di RSUD Buleleng menjadi perhatian serius
Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra. Seperti yang terlihat saat
Wabup Sutjidra didampingi Kepala Inspektorat
Ir. Putu Yasa dan Wakil Direktur RSUD Buleleng dr, Ketut Sudarsana,
Sp.OG melakukan inspeksi di beberapa ruangan RSUD Buleleng Selasa (16/9/2014).
Wabup Sutjidra memulai sidaknya di ruangan Unit Gawat Darurat (UGD).
Diruangan yang selalu disibukkan dengan aktivitas pertolongan tersebut,
Wabup Sutjidra menemui beberapa pasien guna menanyakan pelayanan yang
diberikan tenaga medis.
Tidak mendapatkan keluhan dari pasien,
Wabup Sutjidra melanjutkan sidaknya menuju ruang bersalin, Poliklinik,
dan berakhir di ruangan Bagian Keuangan RSUD Buleleng. Dari keempat
ruangan yang dikunjungi, Wabup Sutjidra mengaku puas karena telah mampu
meminimalisir keluhan pasien terhadap pelayanan medis yang diberikan
petugas kesehatan di RSUD. Wabup Sutjidra mengaku sidak yang
dilakukannya untuk mengetahui bagaimana progress dari pelayanan dan
bagaimana masyarakat bisa mengakses pelayanan yang prima. “ Secara umum
tadi kita keliling menanyakan langsung kepada pasien dan keluarga
pasien terhadap tingkat kepuasan masyarakat dengan pelayanan yang
diberikan di RSUD dan sampai saat ini belum ada keluhan yang kami
terima” ucapnya.
Sutjidra menambahkan, dengan telah ditetapkannya RSUD Buleleng sebagai Rumah Sakit rujukan regional akan diikuti dengan penambahan sarana dan prasarana rumah sakit serta kualitas pelayanan kepada pasien. Ini bisa dilihat dari banyaknya pasien berasal dari luar Bulelengs eperti Tabanan, Jembrana, Karangasem dan Bangli. Terhadap masih ditemukannya antrian di beberapa loket poliklinik, Wabup Sutjidra mengatakan setelah diamati antrian terjadi karena ada pasien memerlukan waktu yang cukup lama dan dan pasien menurutnya sudah memahami masalah tersebut. (hb)
Buleleng - HB
Lokalzone - Kabupaten Buleleng seakan tidak pernah sepi
dari kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat. Setelah sebelumnya
sukses dengan Buleleng Festival dan Buleleng Endek Carnival, kini
masyarakat buleleng khususnya pencinta
permainan layang-layang akan disuguhi Buleleng Mekorot Festival 26
September nanti di kawasan Lovina yang diselenggarakan JCI ( Junior
Chamber International) dan didukung oleh Wirausaha Muda Singaraja,
Komunitas Anak Alam, dan Buleleng Community.
Ditemui usai beraudiensi dengan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST diruang kerjanya 15/9, salah satu panitia Gung Weda mengatakan latar belakang digelarnya Buleleng Mekorot Festival adalah untuk melestarikan budaya "mekorot" yang merupakan permainan layang-layang khas Buleleng. Pesertanya pun dari anak-anak hingga dewasa "Kami ingin memberikan pengalaman baru akan festival layang-layang dengan taste yang berbeda dari biasanya" ucapnya.
Yang membedakan dalam Festival Mekorot ini, panitia juga melakukan aksi bersih-bersih dengan pengumpulan sampah plastik dari peserta yang nantinya bisa ditukarkan dengan layang-layang. Selain itu, panitia nantinya akan mengumpulkan buku dan alat tulis dari peserta lomba yang nantinya akan disalurkan kepada adik asuh dari Buleleng Community dan Komunitas Anak Alam."Selain hiburan, kompetisi juga ada edukasi sampah plastik kepada masyarakat" tambahnya.
Bupati Putu Agus Suradnyana, usai menerima panitia Buleleng Mekorot Festival mendukung pelaksanaan lomba yang diyakini akan menjadi event besar ditahun mendatang. Bupati melihat, Festival Mekorot sesuai dengan terjemahan jiwa masyarakat Buleleng yaitu jengah dan berjiwa kompetisi. Bupati Agus berharap, Festival Mekorot bisa menjadi calender event setiap tahun untuk menambah agenda pariwisata Buleleng. "Karena ini baru pertama kali, maka tahun depan kita perluas cakupan kompetisinya ketingkat nasional. Saya sudah sampaikan ke panitia agar berkordinasi dengan Tim Kreatif saya untuk mensukseskan event Buleleng Mekorot ini agar gema dan gaungnya lebih terasa" ulasnya.
Ditemui usai beraudiensi dengan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST diruang kerjanya 15/9, salah satu panitia Gung Weda mengatakan latar belakang digelarnya Buleleng Mekorot Festival adalah untuk melestarikan budaya "mekorot" yang merupakan permainan layang-layang khas Buleleng. Pesertanya pun dari anak-anak hingga dewasa "Kami ingin memberikan pengalaman baru akan festival layang-layang dengan taste yang berbeda dari biasanya" ucapnya.
Yang membedakan dalam Festival Mekorot ini, panitia juga melakukan aksi bersih-bersih dengan pengumpulan sampah plastik dari peserta yang nantinya bisa ditukarkan dengan layang-layang. Selain itu, panitia nantinya akan mengumpulkan buku dan alat tulis dari peserta lomba yang nantinya akan disalurkan kepada adik asuh dari Buleleng Community dan Komunitas Anak Alam."Selain hiburan, kompetisi juga ada edukasi sampah plastik kepada masyarakat" tambahnya.
Bupati Putu Agus Suradnyana, usai menerima panitia Buleleng Mekorot Festival mendukung pelaksanaan lomba yang diyakini akan menjadi event besar ditahun mendatang. Bupati melihat, Festival Mekorot sesuai dengan terjemahan jiwa masyarakat Buleleng yaitu jengah dan berjiwa kompetisi. Bupati Agus berharap, Festival Mekorot bisa menjadi calender event setiap tahun untuk menambah agenda pariwisata Buleleng. "Karena ini baru pertama kali, maka tahun depan kita perluas cakupan kompetisinya ketingkat nasional. Saya sudah sampaikan ke panitia agar berkordinasi dengan Tim Kreatif saya untuk mensukseskan event Buleleng Mekorot ini agar gema dan gaungnya lebih terasa" ulasnya.
Buleleng - Keramaian
Lokalzone - Perkiraan mundurnya musim penghujan di Buleleng Bagian Barat dan Nusa
Paninda mengakibatkan dua daerah tersebut terancam alami kekeringan.
Musim hujan diperkirakan baru akan tiba pada bulan Desember nanti.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Wayan Suardana, kepada wartawan
Kamis (10/9/2014).
“Mundurnya musim penghujan antara satu sampai dua dasarian atau
sepuluh hari. Musim penghujan diperkirakan terjadi pada bulan Desember.
Hal ini perlu diantisipasi oleh semua pihak, seperti membuat penampungan
air untuk mengatasi kebutuhan masyarakat saat terjadi kekurangan air,”
kata Wayan Suardana.
BMKG memprediksi Provinsi Bali akan diguyur hujan berkisar pada bulan
Oktober dan November 2014. Diantanya daerah Jembrana, Tabanan, Badung,
Bangli bagian tengah, Buleleng bagian utara, Karangasem bagian tengah,
Jembrana bagian barat dan utara, Buleleng bagian timur, Bangli bagian
barat laut dan utara, sebagian besar Karangasem, Gianyar bagian selatan,
Klungkung bagian selatan, Tabanan bagian selatan, Badung bagian
selatan, dan Kota Denpasar.
Sementara daerah Buleleng bagian barat dan Nusa Penida, musim hujan akan terjadi antara dasarian I – III Desember 2014.
Bali - Buleleng
Langganan:
Postingan (Atom)











