Lokalzone - Aksi penganiayaan terhadap wanita kembali terjadi, hanya saja kali yang menjadi korbannya adalah selingkuhan pelaku sendiri yang dipicu lantaran cemburu buta.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun di, diketahui Gede Sumertha Yasa alias Desu (22) yang beralamat di Banjar Dinas Beji, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, walau sudah memiliki seorang istri dan anak juga menjalin hubungan terlarang dengan Ketut Wariningsih (32), alamat di Jalan Sam ratulangi, Kelurahan Penarukan.
"Antara korban dan pelaku, ada hubungan pacaran. Dipicu rasa cemburu sehingga terjadi penganiayaan," papar Kasat Reskrim AKP Ketut Adnyana TJ, Jumat (26/9/2014) di Mapolres Buleleng.
Berdasarkan keterangan korban kepada Polisi kejadian tersebut dipicu lantaran Pelaku yang cemburu terhadap korban yang tiba-tiba datang ketika dirinya sedang menyetrika pakaian dan langsung melayangkan pukulan kearah wajah hingga terjatuh kelantai lalu diseret sejauh 5 meter. Korban yang sempat berupaya kabur pun berhasil dikejar dan dicekik dari belakang sebelum akhirnya dilerai oleh teman korban.
Namun dari pengakuan Desu aksi penganiayaan yang dilakukannya pada hari Rabu (24/9/2014) itu dilakukan lantaran tidak diijinkan pulang oleh korban dan akhirnya melakukan pemukulan sebanyak satu kali kearah muka hingga korban jatuh kelantai.
Aksi penganiayaan ini rupanya tidak hanya kali ini saja terjadi, sebelumnya hal yang sama juga terjadi pada bulan Desember 2013 dan dapat diselesaikan dengan jalan kekeluargaan. Apapun alasannya kini akibat perbuatannya itu Desu harus berurusan dengan pihak Kepolisian
dan dijerat dengan pasal 351 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 2 tahu 8
bulan penjara.
Buleleng - Penganiayaan - Ungkap Kasus
Lokalzone - Akibat memalak dan menganiaya dagang bakso dengan senjata tajam kini Gede Putra Sanjaya (21) yang beralamat di Desa Samirenteng, Kecamatan Tejakula harus berurusan dengan pihak berhajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Berdasarkan keterangan dari Kasat Reskrim AKP Ketut Adnyana TJ, Jumat (26/9/2014) di Ruang Pers Humas Polres Buleleng, kejadian tersebut berawal dari pelaku yang nongkrong dan minum minuman keras di depan Alfamart Jalak Putih, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Banyuasri sekitar pukul 01.00 wita.
"Pada saat itu pelaku minum bersama teman-temannya di TKP. Setalah itu minta rokok kepada korban, karena rokok tidak sesuai keinginan tersangka mengambil sebilah pisau di jok motor dan menodongkannya keleher korban," ungkap Adnyana TJ.
Akibat kejadian tersebut korban Ahmad Wahyudi (17) yang kesehariannya bekerja menjual bakso di TKP mengalami luka gores pada bagian leher dan langsung melaporkan kejadiaan tersebut ke kantor Polisi. Alhasil Putra Sanjaya langsung digelandang ke Mapolres Buleleng beserta barang bukti sebilah pisau sepanjang 30 cm.
Ketika ditanyakan alasan memalak, Sanjaya yang juga seorang pengangguran ini mengaku melakukan hal tersebut lantaran mabuk sehabis minum arak bersama keempat teman-temannya. "waktu itu mabuk sehabis minum," kata Sanjaya.
Akibat ulahnya itu kini Sanjaya terpaksa meringkuk di Rumah Tahanan Polres Buleleng dan dijerat dengan pasal 351 ayat (1) dan (4) KUHP dengan ancaman hukuman penjara dua tahun delapan bulan.
Buleleng - Penganiayaan - Ungkap Kasus
Lokalzone - Diduga hendak melakukan aksi pencurian di Pura Pulaki, Kecamatan Gerokgak, Kamis (25/9/2014) dini hari kemarin sekitar pukul 01.30 wita, tiga
orang pelajar sebuah pondok pesantren di Kecamatan Gerokgak diamankan Polisi.
Informasi dihimpun di Mapolsek Gerokgak kemarin menyebutkan, sebelum kejadian ketiga pelajar masing-masing berinisial KF (17), dan dan HB (19) keduanya warga Banjar Dinas Pegametan, Desa Sumberkima, dan MA (17), asal Sumenep, Jawa Timur nongkrong di sekitar TKP. Saat itu, seorang saksi yang juga pemangku di pura setempat curiga dengan gelagat ketiga pelajar pondok pesantren tersebut yang diketahui sedang mengendap-ngendap di tengah kegelapan di sekitar Pura.
Kapolsek Gerokgak Kompol Putu Juen seizin Kapolres Buleleng AKBP Benny Arjanto ketika dimintai konfirmasi membenarkan anggotanya sempat mengamankan ketiga pelajar yang diduga melakukan aksi pencurian atas laporan warga / saksi.
Kompol
Juen mengatakan, dari hasil introgasi anggotanya ketiga pelajar itu di
TKP hanya nongkrong dan mengaku tidak ada maksud akan
melakukan aksi kriminal. “Memang anggota sempat mengamankan ketiga
pelajar itu, cuma dari keterangan mereka di TKP hanya main-main saja dan
tidak ada bukti yang mengarah aksi kriminal,” ungkap Putu Juen.
Atas hasil pemeriksaan itu Polisi memanggil orang tua ketiga pelajar itu dan mengingatkan peran
orang tua agar memberikan pembinaan kepada ketiganya.
“Kita serahkan kepada orangtuanya dan kami minta dibina jangan
membiarkan anak-anak pada jam-jam dinihari masih berkeliaran di
jalanan,” imbuhnya.
Buleleng - Sosial
Lokalzone - Sekarang ini sudah ada kurang lebih 1,3 miliar orang yang menjadi pengguna layanan jejaring sosial raksasa, Facebook, di seluruh dunia. Ada kabar bahwa, sebentar lagi Facebook berlakukan sistem berbayar untuk menikmati semua layanannya.
Kabar yang dilansir pertama kali oleh sebuah website bernama National Report tersebut menyeruak dan menghebohkan internet, khususnya para pengguna layanan Facebook di mana saja. Dalam laporannya, Facebook akan memberlakukan sistem berbayar bagi siapa saja yang ingin menggunakan layanan mereka.
"Sampai dengan bulan Agustus 2014, Facebook telah memiliki 1.317 miliar pengguna. Apabila dari total pengguna itu, 75 persen membayar layanan kami sebesar USD 3 (sekitar Rp 35 ribuan), maka perusahaan akan mendapatkan pemasukan sebesar USD 36 miliar. Apabila kita tidak melakukan sesuatu, maka ditakutkan Facebook akan tutup di kemudian hari," jelas CEO Facebook, Mark Zuckerberg.
Bahkan dalam website tersebut juga menyebutkan bahwa juru bicara Facebook Paul Horner mengatakan kepada CNN, biaya pembiayaan Facebook sangat tinggi, karenanya dibutuhkan bantuan kesadaran untuk saling menjaga situs jejaring sosial tersebut tetap ada. Sistem berbayar itu akan mulai diberlakukan per tanggal 01 November 2014 mendatang.
Sayangnya, apa yang diberitakan oleh National Report tersebut ternyata hanyalah berita hoax belaka. Bahkan apa yang dilontarkan baik oleh juru bicara Facebook atau Mark Zuckerberg sendiri juga palsu.
Walaupun belum ada konfirmasi resmi dari pihak Facebook, namun sangkalan akan berita hoax tersebut bermunculan. Satu bukti bahwa tidak akan ada sistem berbayar di Facebook karena di halaman depan website itu sendiri masih terpampang dengan jelas tulisan, "Free and always be."
Tentunya bukan kali ini saja berita semacam ini menyeruak, karena dari tahun ke tahun, seperti contohnya di tahun 2011 sampai dengan 2013 kemarin, informasi serupa juga pernah muncul dan menghebohkan internet.
Kabar yang dilansir pertama kali oleh sebuah website bernama National Report tersebut menyeruak dan menghebohkan internet, khususnya para pengguna layanan Facebook di mana saja. Dalam laporannya, Facebook akan memberlakukan sistem berbayar bagi siapa saja yang ingin menggunakan layanan mereka.
"Sampai dengan bulan Agustus 2014, Facebook telah memiliki 1.317 miliar pengguna. Apabila dari total pengguna itu, 75 persen membayar layanan kami sebesar USD 3 (sekitar Rp 35 ribuan), maka perusahaan akan mendapatkan pemasukan sebesar USD 36 miliar. Apabila kita tidak melakukan sesuatu, maka ditakutkan Facebook akan tutup di kemudian hari," jelas CEO Facebook, Mark Zuckerberg.
Bahkan dalam website tersebut juga menyebutkan bahwa juru bicara Facebook Paul Horner mengatakan kepada CNN, biaya pembiayaan Facebook sangat tinggi, karenanya dibutuhkan bantuan kesadaran untuk saling menjaga situs jejaring sosial tersebut tetap ada. Sistem berbayar itu akan mulai diberlakukan per tanggal 01 November 2014 mendatang.
Sayangnya, apa yang diberitakan oleh National Report tersebut ternyata hanyalah berita hoax belaka. Bahkan apa yang dilontarkan baik oleh juru bicara Facebook atau Mark Zuckerberg sendiri juga palsu.
Walaupun belum ada konfirmasi resmi dari pihak Facebook, namun sangkalan akan berita hoax tersebut bermunculan. Satu bukti bahwa tidak akan ada sistem berbayar di Facebook karena di halaman depan website itu sendiri masih terpampang dengan jelas tulisan, "Free and always be."
Tentunya bukan kali ini saja berita semacam ini menyeruak, karena dari tahun ke tahun, seperti contohnya di tahun 2011 sampai dengan 2013 kemarin, informasi serupa juga pernah muncul dan menghebohkan internet.
Ada Dogen - Internasional - Tekno
Lokalzone - Sejumlah warga Desa Gitgit dan anggota Polsek Sukasada hari ini, Rabu (24/9/2014) mendapatkan pekerjaan yang tidak biasa dilakukannya sehari-hari, pasalnya kali ini mereka harus berurusan dengan seorang Bule yang diduga stres dan nyaris bunuh diri dengan melompat ke air terjun.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, Stefan Prenzlau (40) seorang turis berkewarganegaraan Jerman itu datang dan berbelanja di sebuah warung di Desa Gitgit. Kejanggalan muncul ketika hendak dimintai uang pembayaran, bahkan tanpa diketahui sebabnya Stefan mulai ngamuk-ngamuk tidak karoan.
Tidak hanya itu Stefan juga diketahui membuka pakaiannya dan berlari telanjang di perkebunan warga hingga sengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Beruntung sebelum bunuh diri dengan melompat ke air terjun bisa diamankan oleh warga setempat bersama Polisi.
Stefan yang mengalami luka pada bagian tangan dan kaki selanjutnya dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. Hingga berita ini ditulis belum diketahui apa penyebab Bule ini bertingkah nyeleneh hingga nekat hampir bunuh diri.
Ada Dogen - Buleleng - Sosial
Langganan:
Postingan (Atom)









