Select Menu
Buah Unggul
Diberdayakan oleh Blogger.

Buleleng

Bali

Teknologi

Lifestyle

Nasional

Videos

LokalZone - Tingkatkan kemampuan masing-masing personil Shabara, Satuan Polres Buleleng mengadakan pelatihan Tindakan Pertama Di Tempat Kejadian Perkara (TPTKP) serta pemberian Pertolongan Pertama kepada korban apabila diperlukan, Selasa (29/9/2015) di Wantilan Mapolres Buleleng.

”Pelatihan ini dilakukan merujuk adanya Telegram Resmi dari Kapolda Bali Irjen Sugeng Priyatno, terkait perintah kepada seluruh anggota Sabhara di jajaran Polda Bali untuk melaksanakan kegiatan latihan fungsi Sabhara TPTKP guna meningkatkan kemampuan personil,” ujar Kabag Ops Kompol Ketut Gelgel, seijin  Kapolres Buleleng, AKBP Harry Haryadi B. usai membuka kegiatan pelatihan tersebut.

Walau materi yang diajarkan telah didapatkan oleh setiap anggota saat mengikuti pendidikan Bintara Polisi di SPN, menurut Gelgel kegiatan ini sangat penting dilaksanakan untuk meningkatkan pelayanan prima dari Kapolisian dalam melaksanakan TPTKP serta pertolongan pertama kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan, mengingat salah satu tugas pokok Shabara adalah melaksanakan patroli rutin.

"Melalui kegiatan pelatihan ini kami berupaya untuk meningkatkan kemampuan anggota, khususnya Sabhara yang rutin melakukan Patroli, untuk cepat melakukan penanganan bila ada tindakan kriminal di Buleleng. Dan juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pertolongan pertama jika menemukan kecelakaan atau masyarakat yang membutuhkan pertolongan,” papar Kompol Gelgel.

Dalam pelatihan tersebut sedikitnya 60 orang personil yang terdiri dari Kanit, Panit, dan anggota Satuan Sabhara di jajaran Polsek-Polsek yang ada di lingkungan Polres Buleleng secara langsung juga mengamati proses sekaligus praktek pemberian pertolongan pertama dari Dokter Poliklinik Polres Buleleng Ni Luh Ranti untuk kasus keracunan, kecelakaan patah tulang serta kasus lainnya yang memerlukan pertolongan pertama / P3K.
-
LokalZone - Nasib nahas dialami oleh pelaku curanmor yang beraksi di parkiran Gereja Pancar Kasih Desa Bungkulan pada hari jumat (25/9/2015) lalu, walau pelaku telah mempersiapkan aksinya dengan matang ditambah dengan keahlian mekanik, nyatanya Polisi tetap bisa mengendus dan meringkusnya dalam waktu kurang dari 24 jam. 

Berdasarkan release dari Kaposek Sawan AKP Made Mustiada didampingi Kanit Reskrim Polsek Sawan Ipda Wayan Santiasa, Senin (28/9/2015) di ketahui pelaku, I Ketut Soma Tirta alias Pucil (37), yang beralamat di Desa Poh Bergong sudah merencanakan aksinya dengan berpura-pura mencari bunga kamboja di TKP.

"Saat korban memarkir sepeda motornya, pelaku sudah berada di TKP memungut bunga kamboja dengan menggunakan masker. Setelah korban keluar sepeda motornya sudah tidak ada, dari laporan yang kami terima kita lakukan penyelusuran dan menggali informasi, hingga akhirnya mengarah kepada pelaku dan berhasil kami bekuk sekitar 14 jam setelah dilaporkan," ujar Made Mustiada.

Hal tersebut juga diakui oleh Pucil yang juga mengaku melakukan aksi tersebut lantaran tidak memiliki uang. "Karena tidak punya uang pak, sebelumnya mencari bunga kamboja disana," kata Pucil.

Berdasarkan hasil penyelidikan Polisi terungkap sepeda motor tersebut dituntun oleh pelaku dari TKP hingga ke lapangan sepak bola Desa Bungkulan, dimana pelaku sempat meminjam obeng kepada warga setempat untuk menghidupkan paksa sepeda motor tersebut.

"Pelaku sempat meminjam obeng, karena tidak mendapat obeng yang dikasi gunting untuk membuka bagian sayap supaya bisa menghidupkan motor dengan cara menyatukan dua kabel," ungkap Made Mustiada.

Dan berdasarkan pengakuan Pucil, keahlian tersebut dia miliki lantaran sebelumnya sempat bekerja di bengkel.

Akibat ulahnya kini Pucil harus berurusan dengan aparat penegak hukum dikuatkan dengan adanya barang bukti berupa sebuah sepeda motor Yamaha Jupiter MX DK 6674 UC yang ditemukan dirumahnya saat disergap Polisi, dan dijerat pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.
-
LokalZone - AKBP Kurniadi, SiK., MSi. hari ini, Sabtu (20/9/2015) secara resmi meninggalkan kesatuan Polres Buleleng untuk menduduki promosi jabatan barunya sebagai Wakil Direktur Kriminal Khusus (Wadir Krimsus) Polda NTT. Walau masa tugasnya di Buleleng hanya berkisar 10 Bulan, kepemimpinan Kurniadi sangat dirasakan oleh anggota jajarannya lantaran beberapa program pensejahteraan anggotanya dimana salah satunya adalah bedah rumah bagi yang tidak mampu. 

Dalam upacara tradisi yang pelepasan sekaligus penerimaan Kapolres baru, AKBP Kurniadi mengungkapkan bahwa dirinya tetap akan menjadi bagian dari keluarga besar Polres Buleleng. "Saya sangat berterima kasih atas dedikasi anggota selama menjabat disini, dan saya tetap akan menjadi bagian dari keluarga besar Polres Buleleng walaupun tidak berada disini lagi," ucapnya di depan peserta apel.

Tidak hanya itu terungkap pula bahwa sebagai besar kasus-kasus yang ditangani selama kepemimpinannya telah berhasil dituntaskan. "Tunggakan kasus tidak terlalu banyak, yang menonjol kasus korupsi sudah masuk, tinggal 1 kasus korupsi LPD, sebentar lagi pasti bisa di limpahkan," papar AKBP Kurniadi kepada awak media seraya meminta doa restu untuk bertugas di tempat yang baru.
Dilain pihak Kapolres Buleleng yang baru AKBP Harry Haryadi Badjuri, SiK., MHUM,. yang sebelumnya bertugas sebagai Kapolres Jembrana mengungkapkan akan segera melakukan penataan organisasi serta tetap menjaga komunikasi terhadap stakeholder serta masyarakat Buleleng untuk menunjang tugas-tugas Kepolisian.

"Pertama melanjutkan kebijaksanaan Kapolres terdahulu, melaksanakan tugas pokok, menata bagian dalam organisasi dan tentunya dengan adanya perbandingan jumlah Polisi dan masyarakat yang sangat banyak kami akan tetap mengedepankan komunikasi dengan stakeholder, dengan tokoh masyarakat, adat maupun agama untuk ikut berpartisipasi," kata Kapolres Buleleng Harry Haryadi.
-
LokalZone - Jika petani garam di Bali diberdayakan dengan baik maka ketergantungan masyarakat setempat akan garam impor  bisa diminimalisir. Sebaliknya, keberlangsungan hidup mereka, para petani, bisa dipertahankan.

Ada banyak titik pembuatan garam terbentang mulai dari Kusamba (Kelungkung), Karangasem hingga wilayah paling timur Singaraja yaitu Tejakula. Masing masing wilayah tersebut memiliki beberapa lapak pembuatan garam tradisional yang setiap lapaknya mampu memproduksi sekitar 5 kg garam per harinya, dengan catatan dalam kondisi terik matahari.

Sayangnya, menurut salah seorang petani garam di Kusamba, bapak Ketut Santa, bahwa mereka terkendala distribusi selama ini. Garam yang mereka produksi dijual di tempat pembuatan dengan mengandalkan kerendahan hati pengunjung. Hal ini membuat produk mereka tidak terserap secara maksimal dimana mempengaruhi kelangsungan hidup keluarganya.  

Jumlah lapak yang awalnya mencapai 25 kini menyusut tinggal hanya 3 lapak. Ketidakpastian penghasilan membuat sebagian besar dari mereka beralih ke sektor lain. "Banyak dari mereka yang bahkan menjual tanahnya kepada investor karena hasil garam tidak lagi mencukupi kebutuhan keluarga," ujar petani lainnya, Wayan Seplig. 

Meskipun harga yang dipatok cukup murah namun hal ini belum bisa menggugah masyarakat Bali untuk mengonsumsi produknya secara konsisten. Ketut Santa menjual produknya mulai dari Rp. 30,000 hingga 50,000 per bungkusnya. Bungkusan plastik berukuran satu kilogram jika ditimbang bisa mencapai 750 gram mengingat garam merupakan produk yang ringan.





- - - - -
LokalZone - Nyoman Astika (70) warga Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, yang melakukan transmigrasi secara Swadaya ke wilayah Dusun Baturiti, Desa Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah tewas mengenaskan ditangan Kelompok teroris Santoso, pada Minggu (13/9/2015), sekitar pukul 13.00 waktu setempat. (ket foto, korban sebelah kanan)

Ironisnya, kepala korban yang dipenggal dibawa kabur oleh Kelompok tersebut. Dan kejadian naas ini, diketahui langsung oleh istri korban yakni, Kantri (65). Berdasarkan sambungan telepon seluler pada Selasa (15/9/2015), yang dihubungkan langsung oleh Sekretaris Desa Gitgit, Gede Garmita ke salah seorang kerabat korban yang berada di daerah Parigi, bernama Wayan Patria menuturkan, kejadian ini berawal dari ketika Kantri berniat sembahyang di Kebun milik korban, karena saat itu Rahina Tilem, yang ditemani Astika.

Tepat pukul 13.00 waktu setempat, tiba-tiba datang 5 orang yang menggunakan cadar, yang diduga merupakan Kelompok Santoso. Dimana kelima orang itu diantaranya, 2 orang membawa senjata laras panjang, 2 orang membawa pistol, dan 1 orang membawa kapak. Awalnya, Kantri yang disekap oleh kelompok itu, namun Astika berusaha membela istrinya. Beberapa saat, Kantri dipegang oleh 2 orang  yang membawa pistol, sedangkan 3 orang lainnya menyeret Astika beberapa jarak menjauhi Kantri.

Selang beberapa menit, ketiga orang itu datang, dimana 1 orang yang membawa kapak berlumburan darah. Didepan mata Kantri, 1 orang itu membersihkan senjatanya dan badannya yang berlumburan darah. Sembari mengancam Kantri agar tidak pulang ke Desa dan melaporkan kejadian ini, setelah itu 5 orang itu melepaskan Kantri. Kantri yang penasaran dengan kondisi suaminya, mendapati suaminya meninggal dunia tanpa kepada disebelah Gubuk di kebunnya.

“Sampai jam 8 malam dia disana, setelah akhirnya nekat pulang, dan langsung memberitahu keluarga lainnya, setelah itu warga satu kampung semua berangkat ke tempat kejadian, dan membawa pulang jenazah korban, dan ada warga yang mencari kepalanya. Mayatnya sempat dititipkan di RSUD Parigi Moutong, sampai sekarang kepalanya belum ditemukan. Kami sudah laporkan ini, ke pihak Polisi disini,” ungkap Patria, melalui telepon seluler.

Salah seorang menantu korban, Nyoman Adiana mengaku, mendapatkan kabar meninggalnya mertuanya ini, dari salah seorang keluarganya yang berada di Parigi, pada malam hari usai kejadian. Ia pun mengaku, belum memberitahu istrinya yang merupakan anak korban, terkait kejadian yang menimpa mertuanya ini. “Awalnya saya terima kabar kematian bapak, katanya disempal oleh kelompok teroris. Saya tidak berani ngomong ke istrinya saya yang ada di luar negeri, takut shok. Kalau sudah pulang baru kasik tahu, seminggu lagi dia pulang, sudah saya suruh pulang,” tuturnya, ditemui di Kantor Perbekel Desa Gitgit.

Diakuinya, lokasi kebun milik mertuanya itu merupakan jalur “Danger”. Pasalnya, jalur itu merupakan jalur Teroris, yang kerap dilintasi oleh para teroris atau kelompok lainnya. Menurutnya juga, dari pengakuan mertuanya sebelumnya saat pulang, memang kebun milik korban itu merupakan sering dijadikan tempat persembunyian oleh Kelompok Teror diwilayah itu. “Memang itu jalur teroris, dulu katanya sempat ada teroris ngumpet di kebun milik mertua saya. Orang-orang tidak berani lewat disana, karena sepi dan jalurnya berbahaya. Mertua saya ditemukan jenazahnya, tepat berada dibawah pohon duren,” katanya.

Menurutnya juga, lokasi kebun milik mertuanya bersama kebun warga lainnya itu, berjauhan dengan pemukiman penduduk. Dirinya yang juga pernah tinggal disana mengaku, untuk mencapai pemukiman penduduk, diperlukan waktu kurang lebih 3 ataupun 4 jam lamanya, untuk mencapai ke Desa. Sehingga menurutnya, kondisi ini sering dimanfaatkan kelompok-kelompok itu, untuk melakukan tindakan anarkis.

“Kerjaan bapak saya cuma sebagai petani cengkeh disana. Lagian, rumah disana jauh-jauh lokasinya dengan kebunnya, karena itu pondok Transmigrasi semuanya. Perlu waktu 3 jam lebih mencapai pemukiman Desa, itupun harus jalan kaki, karena disana Hutan,” jelasnya, sembari mengaku, dirinya akan menuju ke Daerah Parigi, sambil menunggu kedatangan istrinya, yang sebagai Tenaga Kerja di luar Negeri, untuk berangkat bersama.

Sementara itu, Perbekel Desa Gitgit, Putu Wardana meminta, kepada Pemerintah terkait, agar melindungi Transmigran yang berada di Daerah-Daerah Rawan Konflik. Ia pun khawatir, terhadap beberapa warganya yang berada di daerah konflik. Meskipun diakuinya, korban yang tewas diperantauan ini, merupakan Transmigrasi secara Swadaya. “Ini perlu adanya fasilitasi aparat yang membidangi, mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang lagi, warga kami sekian lama disana. Memang kebanyakan warga kami ini Transmigrasi Swadaya, di Sulawesi Tengah, tapi ini kan perlu pengamanan juga, karena bukan warga kami saja disana, banyak warga lainnya disemua daerah,” pungkasnya.

Kabid Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Buleleng, I Nyoman Suyasa menjelaskan, Astika tidak terdaftar dalam data Transmigran Disnakertrans, sebab Astika sebagai transmigrasi secara swadaya. “Kalau swadaya tidak terdaftar di data kami. Karena mereka kan berangkat sendiri tanpa sepengetahuan kami, seperti merantaulah mereka, biasanya ikut keluarga atau teman yang sudah sukses disana, dan kebanyakan warga kami memilih Sulawesi, karena daerah itu memiliki potensi alam yang cocok untuk pertanian maupun perkebunan,” jelasnya.

Data terakhir dari Disnakertrans Buleleng, jumlah Tansmigran dari Buleleng di Sulawesi yang terdaftar mulai 2007 sampai 2013 mencapai 556 orang yang terdiri 153 KK. Sementara pada 2014 lalu tidak mengirimkan transmigran. Pada 2015 ini pihaknya akan kembali mengirimkan 10 KK transmigran ke Sulawesi.

Rencananya, korban hari ini, Selasa (15/9/2015) akan dikubur dilokasi itu. Sebab, menurut secara Pawisik yang ada menyebutkan, bahwa korban meninggal dalam kondisi tidak utuh, yang tanpa kepala, dan diwajibakan dikubur di wilayah Parigi, Sulawesi Tengah, sesuai adat Agama Hindu, sambil menunggu Kepala Korban ditemukan kembali, baru dilaksanakan Upacara Pengabenan.
-