Tekno,Lokal-zone.com - Teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Berbagai penemuan yang ada, bahkan memiliki kemampuan merubah gaya hidup manusia itu sendiri.
Dikutip dari Newsobserver, berikut beberapa teknologi yang terbukti merubah kehidupan manusia secara menyeluruh.
1. Internet dan pengetahuan
Di negara maju, kita sudah terbiasa menggunakan perangkat yang terhubung dan menginformasikan serta memberikan layanan sesuai keinginan. Pada tahun 2015, hampir setengah dari penduduk China dan seperlima dari penduduk India telah mendapatkan konektivitas internet. India kini memiliki pengguna internet lebih daripada AS, dan China dua kali lebih banyak.
Smartphone dengan kemampuan iPhone nantinya akan dibanderol kurang dari USD50 atau sekitar Rp695 ribuan pada tahun 2020. Pada saat itu, upaya Facebook, Google, OneWeb dan SpaceX untuk memberikan akses internet murah dapat dilakukan melalui drone, balon, dan mikrosatelit pasti akan berbuah.
Kondisi ini akan menjadi sangat transformatif untuk negara berkembang. Pengetahuan selalu menjadi hak istimewa orang kaya. Tapi seiring perkembangan teknologi semua orang akan memiliki akses ke laut pengetahuan di Internet.
Media sosial akan memungkinkan miliaran orang berbagi pengalaman mereka dan membantu satu sama lain. Pekerja di desa-desa terpencil Afrika dapat menawarkan layanan digital kepada elit di Silicon Valley.
2. Dokter siap di saku
Semua ini telah dimungkinkan oleh kemajuan komputasi dan jaringan. Dalam perkembangan yang disebut Hukum Moore, komputer bisa lebih cepat, lebih murah dan lebih kecil.
Smartphone sehara USD100 atau sekitar Rp1 jutaan lebih cepat dari superkomputer yang hadir di 1970-an dengan harga jutaan dolar. Komputer yang lebih cepat, memungkinkan merancang sensor lebih kuat dan sistem kecerdasan buatan (AI).
Dengan sensor yang lebih baik, kita dapat mengembangkan perangkat canggih medis, sistem pengiriman berbasis drone, dan kota-kota pintar. Dengan AI, kita dapat mengembangkan mobil self-driving, sistem pengenalan suara, dan dokter digital.
Pada 2015, peralatan medis terhubung dengan smartphone ke mainstream.Seperti Apple dengan jam pintarnya, memiliki kemampuan menggunakan sensor denyut jantung dan akselerometer, dapat melacak tanda-tanda vital dan gaya hidup.
Melalui aplikasi Kit Penelitian gratis, Apple memberikan kemampuan memantau, pada skala global dan penggunaan obat-obatan. Microsoft, IBM, Samsung dan Google, serta sejumlah startups, sedang mengembangkan sensor dan alat berbasis kecerdasan buatan untuk melakukan pekerjaan dokter.
Teknologi ini akan menelan banyak uang tapi memang ditujukan untuk negara-negara maju. Tapi perusahaan di China, India dan Afrika tetap mengerjakan dengan teknologi versi murah.
3. Teknologi Blockchain
3. Teknologi Blockchain
Salah satu kemajuan teknologi yang paling kontroversial akhir-akhir ini Bitcoin, mata uang digital yang tidak diatur dan tidak terkendali. Ini menjadi terkenal karena digunakan penjahat dan hacker.
Namun, pada tahun 2015 sudah mulai memperoleh penerimaan oleh pengecer seperti Overstock.com. Dan teknologi blockchain, menjadi dasar dari ratusan usaha teknologi pengembangan.
Blockchain tidak digunakan hanya untuk pembiayaan. Ini adalah buku digital yang dapat digunakan untuk merekam apapun yang dapat didigitalkan, seperti sertifikat kelahiran dan kematian, surat nikah, perbuatan dan judul kepemilikan, derajat pendidikan, catatan medis, kontrak, dan penilaian.
4. Teknik kedokteran
Teknologi lain yang datang ke dalam arus utama adalah modifikasi gen CRISPR. Ditemukan oleh para ilmuwan beberapa tahun lalu, CRISPR unsur sistem kuno yang melindungi bakteri dan organisme bersel tunggal lainnya dari virus, memperoleh kekebalan terhadap mereka dengan memasukkan unsur genetik dari penjajah virus.
Via CRISPR, DNA dapat diedit, baik menghapus urutan yang tidak diinginkan atau memasukkan urutan payload. Modifikasi CRISPR memperkenalkan banyak risiko baru jika salah digunakan, seperti mengedit embrio manusia.
Tetapi juga bisa digunakan untuk memperbaiki DNA yang rusak bertanggung jawab untuk penyakit genetik seperti cystic fibrosis, anemia sel sabit, dan Alzheimer. Laboratorium di seluruh dunia bekerja dengan teknologi ini untuk memecahkan berbagai masalah.
5. Perkembangan drone
Diperkirakan Amerika akan membeli hampir setengah juta drone, selama musim liburan ini. Kita akan melihat mereka di mana-mana.
Sebagai teknologi maju, ini akan membawa peningkatan jumlah berat badan dan perjalanan jarak jauh. Mereka akan memonitor lalu lintas dan kejahatan, melakukan inspeksi bangunan, dan memberikan bantuan darurat saat bencana.
Drone akan memecahkan banyak masalah infrastruktur dan mengurangi polusi serta lalu lintas. Mereka juga akan memungkinkan pemantauan konstan perubahan iklim dan satwa liar ekologi bumi.
Edukasi - Tekno
Lokal-zone.com - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali menargetkan produksi garam pada 2016 ini sebanyak 5.768,11 ton. Target tersebut dilihat dari rata-rata pertumbuhan produksi setiap tahunnya.
Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, selama empat tahun terakhir produksi garam di Bali yaitu 6.514,72 ton selama 2012, turun menjadi 4.982,71 ton selama 2013, kemudian naik kembali menjadi 7.889,52 ton, dan pada 2015 kemarin mengalami peningkatan cukup tinggi menjadi 11.554,59 ton.
I Made Gunaja, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa menargetkan terlalu tinggi meskipun capaian tahun lalu lebih dari 11.000 ton.
“Hal tersebut dikarenakan untuk produksi garam tergantung pada cuaca . Peningkatan pada 2015 lalu karena cuaca saat itu cukup mendukung, dimana musim panas lumayan panjang sehingga waktu produksi juga lebih lama,” tegasnya saat ditemui di Denpasar, Jumat (8/4/2016).
Guna meningkatkan produksi garam di Bali, lanjutnya, pihaknya mengembangkan dengan teknologi bio isolator meskipun jika dilihat dari kualitas dan harga dinilai lebih rendah daripada diproduksi dengan cara konvensional.
“Dari segi produksi mungkin bisa ditingkatkan dengan menggunakan teknologi tersebut, namun jika dilihat dari kualitas dan harga jauh lebih rendah. Bahkan, petani garam binaan kami di Amed, Karangasem lebih menginginkan dukungan fasilitas palung ketimbang bio isolator tersebut,” ujarnya.
Pihaknya pun berharap bahwa kedepannya para petani garam di Amed tersebut bisa mengolah atau memurnikan garam yang dibeli dari luar sehingga dapat dijual dengan harga lebih tinggi.
“Selain itu, kami juga menginginkan agar petani kita memproduksi garam krosok sehingga bahan baku tidak didatangkan dari luar. Dengan demikian hasilnya bisa dinikmati langsung oleh masyarakat,” terangnya.
Gunaja mengaku secara produksi garam memang mengalami peningkatan namun luas lahan produksi garam di Bali sendiri cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun, karena lahan-lahan tersebut kebanyakan diminati investor pariwisata.
Pihaknya mencatat pada 2015 lalu luas lahan produksi garam di Bali hanya 119,14 hektar, dimana yang paling luas berada di Kabupaten Buleleng.
“Kabupaten yang masih memiliki lahan terluas yakni Buleleng dengan luas 100 hektar, selanjutnya disusul oleh Karangasem 10,42 hektar. Sedangkan luas lahan produksi garam di Denpasar, Badung, Tabanan, Jembrana, Klungkung, dan Gianyar adalah kurang dari 10 hektar,” paparnya. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali menargetkan produksi garam pada 2016 ini sebanyak 5.768,11 ton. Target tersebut dilihat dari rata-rata pertumbuhan produksi setiap tahunnya.
Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, selama empat tahun terakhir produksi garam di Bali yaitu 6.514,72 ton selama 2012, turun menjadi 4.982,71 ton selama 2013, kemudian naik kembali menjadi 7.889,52 ton, dan pada 2015 kemarin mengalami peningkatan cukup tinggi menjadi 11.554,59 ton.
I Made Gunaja, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa menargetkan terlalu tinggi meskipun capaian tahun lalu lebih dari 11.000 ton.
“Hal tersebut dikarenakan untuk produksi garam tergantung pada cuaca . Peningkatan pada 2015 lalu karena cuaca saat itu cukup mendukung, dimana musim panas lumayan panjang sehingga waktu produksi juga lebih lama,” tegasnya saat ditemui di Denpasar, Jumat (8/4/2016).
Guna meningkatkan produksi garam di Bali, lanjutnya, pihaknya mengembangkan dengan teknologi bio isolator meskipun jika dilihat dari kualitas dan harga dinilai lebih rendah daripada diproduksi dengan cara konvensional.
“Dari segi produksi mungkin bisa ditingkatkan dengan menggunakan teknologi tersebut, namun jika dilihat dari kualitas dan harga jauh lebih rendah. Bahkan, petani garam binaan kami di Amed, Karangasem lebih menginginkan dukungan fasilitas palung ketimbang bio isolator tersebut,” ujarnya.
Pihaknya pun berharap bahwa kedepannya para petani garam di Amed tersebut bisa mengolah atau memurnikan garam yang dibeli dari luar sehingga dapat dijual dengan harga lebih tinggi.
“Selain itu, kami juga menginginkan agar petani kita memproduksi garam krosok sehingga bahan baku tidak didatangkan dari luar. Dengan demikian hasilnya bisa dinikmati langsung oleh masyarakat,” terangnya.
Gunaja mengaku secara produksi garam memang mengalami peningkatan namun luas lahan produksi garam di Bali sendiri cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun, karena lahan-lahan tersebut kebanyakan diminati investor pariwisata.
Pihaknya mencatat pada 2015 lalu luas lahan produksi garam di Bali hanya 119,14 hektar, dimana yang paling luas berada di Kabupaten Buleleng.
“Kabupaten yang masih memiliki lahan terluas yakni Buleleng dengan luas 100 hektar, selanjutnya disusul oleh Karangasem 10,42 hektar. Sedangkan luas lahan produksi garam di Denpasar, Badung, Tabanan, Jembrana, Klungkung, dan Gianyar adalah kurang dari 10 hektar,” paparnya.
Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, selama empat tahun terakhir produksi garam di Bali yaitu 6.514,72 ton selama 2012, turun menjadi 4.982,71 ton selama 2013, kemudian naik kembali menjadi 7.889,52 ton, dan pada 2015 kemarin mengalami peningkatan cukup tinggi menjadi 11.554,59 ton.
I Made Gunaja, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa menargetkan terlalu tinggi meskipun capaian tahun lalu lebih dari 11.000 ton.
“Hal tersebut dikarenakan untuk produksi garam tergantung pada cuaca . Peningkatan pada 2015 lalu karena cuaca saat itu cukup mendukung, dimana musim panas lumayan panjang sehingga waktu produksi juga lebih lama,” tegasnya saat ditemui di Denpasar, Jumat (8/4/2016).
Guna meningkatkan produksi garam di Bali, lanjutnya, pihaknya mengembangkan dengan teknologi bio isolator meskipun jika dilihat dari kualitas dan harga dinilai lebih rendah daripada diproduksi dengan cara konvensional.
“Dari segi produksi mungkin bisa ditingkatkan dengan menggunakan teknologi tersebut, namun jika dilihat dari kualitas dan harga jauh lebih rendah. Bahkan, petani garam binaan kami di Amed, Karangasem lebih menginginkan dukungan fasilitas palung ketimbang bio isolator tersebut,” ujarnya.
Pihaknya pun berharap bahwa kedepannya para petani garam di Amed tersebut bisa mengolah atau memurnikan garam yang dibeli dari luar sehingga dapat dijual dengan harga lebih tinggi.
“Selain itu, kami juga menginginkan agar petani kita memproduksi garam krosok sehingga bahan baku tidak didatangkan dari luar. Dengan demikian hasilnya bisa dinikmati langsung oleh masyarakat,” terangnya.
Gunaja mengaku secara produksi garam memang mengalami peningkatan namun luas lahan produksi garam di Bali sendiri cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun, karena lahan-lahan tersebut kebanyakan diminati investor pariwisata.
Pihaknya mencatat pada 2015 lalu luas lahan produksi garam di Bali hanya 119,14 hektar, dimana yang paling luas berada di Kabupaten Buleleng.
“Kabupaten yang masih memiliki lahan terluas yakni Buleleng dengan luas 100 hektar, selanjutnya disusul oleh Karangasem 10,42 hektar. Sedangkan luas lahan produksi garam di Denpasar, Badung, Tabanan, Jembrana, Klungkung, dan Gianyar adalah kurang dari 10 hektar,” paparnya. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali menargetkan produksi garam pada 2016 ini sebanyak 5.768,11 ton. Target tersebut dilihat dari rata-rata pertumbuhan produksi setiap tahunnya.
Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, selama empat tahun terakhir produksi garam di Bali yaitu 6.514,72 ton selama 2012, turun menjadi 4.982,71 ton selama 2013, kemudian naik kembali menjadi 7.889,52 ton, dan pada 2015 kemarin mengalami peningkatan cukup tinggi menjadi 11.554,59 ton.
I Made Gunaja, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa menargetkan terlalu tinggi meskipun capaian tahun lalu lebih dari 11.000 ton.
“Hal tersebut dikarenakan untuk produksi garam tergantung pada cuaca . Peningkatan pada 2015 lalu karena cuaca saat itu cukup mendukung, dimana musim panas lumayan panjang sehingga waktu produksi juga lebih lama,” tegasnya saat ditemui di Denpasar, Jumat (8/4/2016).
Guna meningkatkan produksi garam di Bali, lanjutnya, pihaknya mengembangkan dengan teknologi bio isolator meskipun jika dilihat dari kualitas dan harga dinilai lebih rendah daripada diproduksi dengan cara konvensional.
“Dari segi produksi mungkin bisa ditingkatkan dengan menggunakan teknologi tersebut, namun jika dilihat dari kualitas dan harga jauh lebih rendah. Bahkan, petani garam binaan kami di Amed, Karangasem lebih menginginkan dukungan fasilitas palung ketimbang bio isolator tersebut,” ujarnya.
Pihaknya pun berharap bahwa kedepannya para petani garam di Amed tersebut bisa mengolah atau memurnikan garam yang dibeli dari luar sehingga dapat dijual dengan harga lebih tinggi.
“Selain itu, kami juga menginginkan agar petani kita memproduksi garam krosok sehingga bahan baku tidak didatangkan dari luar. Dengan demikian hasilnya bisa dinikmati langsung oleh masyarakat,” terangnya.
Gunaja mengaku secara produksi garam memang mengalami peningkatan namun luas lahan produksi garam di Bali sendiri cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun, karena lahan-lahan tersebut kebanyakan diminati investor pariwisata.
Pihaknya mencatat pada 2015 lalu luas lahan produksi garam di Bali hanya 119,14 hektar, dimana yang paling luas berada di Kabupaten Buleleng.
“Kabupaten yang masih memiliki lahan terluas yakni Buleleng dengan luas 100 hektar, selanjutnya disusul oleh Karangasem 10,42 hektar. Sedangkan luas lahan produksi garam di Denpasar, Badung, Tabanan, Jembrana, Klungkung, dan Gianyar adalah kurang dari 10 hektar,” paparnya.
Bali - Ekonomi
Kesehatan, Lokal-zone.com - Kesehatan ibu hamil memang punya pengaruh sangat besar terhadap kesehatan jabang bayi di dalam rahimnya. Jika tidak menjaga kesehatan dengan baik, kesehatan bayi di dalam kandungan juga bisa mengancam. Apa yang menjadi kekhawatiran ibu mungkin akan terjadi pada anak.
Karena itulah ibu hamil patut waspada terhadap apa pun yang terjadi di dalam tubuhnya, apalagi jika bukan demi menjaga kesehatan bayi dalam kandungan. Seperti yang dialami oleh ibu bernama Cormit berikut ini. Dalam sebuah video dari rumah sakit Australia's Gold Coast Health, Cormit menceritakan pengalamannya yang lengah menjaga kesehatan tubuhnya sehingga membahayakan bayinya sendiri.
Cormit menjelaskan bahwa ia memutuskan menolak mendapat suntikan vaksin pertussis dari rumah sakit saat ia mulai batuk. Dia ditawari suntik vaksinasi di usia kandungan minggu ke-28. Bukannya menerima saran dokter, Cormit justru menolak vaksin dan berkata bahwa ia tak butuh obat itu.
Ia merasa tubuhnya sehat-sehat saja, ia tak sedang batuk parah dan tak ingin tubuhnya terpengaruh obat-obatan, itulah alasan mengapa ia menolak. Namun keputusan ini justru membuatnya menyesal. Ia terus-terusan batuk hingga beberapa minggu setelahnya hingga tiba saatnya melahirkan.
Setelah melahirkan, bayinya mulai batuk-batuk juga, yang mana pada awalnya tak membuatnya khawatir. Namun batuk bayinya tak kunjung reda dan justru semakin keras hingga tubuh anaknya itu berubah merah, kebiruan dan bahkan memucat. Anaknya berhenti bernafas selama tiga menit dan barulah ia khawatir dan melarikan ke rumah sakit.
Selama tiga minggu setelah itu mereka terus keluar masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena bayinya terus batuk dan bahkan mengalami kesulitan bernafas. Bayinya mengalami pertussis, kondisi batuk-batuk pada bayi yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis.
Pertussis bisa menyerang siapa saja, namun lebih berbahaya pada bayi di bawah 1 tahun karena batuk bisa menyebabkan kesulitan bernafas. Meski sudah membaik, namun pengalaman ini jelas tak akan pernah dilupakan Cormit.
Ia bahkan berkata, "Jika aku bisa mengembalikan waktu, aku akan memilih melindungi diriku sendiri." Karena dengan melindungi kesehatan tubuhnya sendiri, ia pun bisa melindungi kesehatan bayinya.
Ia ingin banyak calon ibu di luar sana lebih perhatian dengan kesehatannya, bahkan untuk hal-hal kecil dan sepele sekalipun. Jangan mengabaikan kondisi kesehatan yang tampaknya tak penting, karena bisa jadi sebab kecil itulah yang mengancam nyawa buah hati.
Karena itulah ibu hamil patut waspada terhadap apa pun yang terjadi di dalam tubuhnya, apalagi jika bukan demi menjaga kesehatan bayi dalam kandungan. Seperti yang dialami oleh ibu bernama Cormit berikut ini. Dalam sebuah video dari rumah sakit Australia's Gold Coast Health, Cormit menceritakan pengalamannya yang lengah menjaga kesehatan tubuhnya sehingga membahayakan bayinya sendiri.
Cormit menjelaskan bahwa ia memutuskan menolak mendapat suntikan vaksin pertussis dari rumah sakit saat ia mulai batuk. Dia ditawari suntik vaksinasi di usia kandungan minggu ke-28. Bukannya menerima saran dokter, Cormit justru menolak vaksin dan berkata bahwa ia tak butuh obat itu.
Ia merasa tubuhnya sehat-sehat saja, ia tak sedang batuk parah dan tak ingin tubuhnya terpengaruh obat-obatan, itulah alasan mengapa ia menolak. Namun keputusan ini justru membuatnya menyesal. Ia terus-terusan batuk hingga beberapa minggu setelahnya hingga tiba saatnya melahirkan.
Setelah melahirkan, bayinya mulai batuk-batuk juga, yang mana pada awalnya tak membuatnya khawatir. Namun batuk bayinya tak kunjung reda dan justru semakin keras hingga tubuh anaknya itu berubah merah, kebiruan dan bahkan memucat. Anaknya berhenti bernafas selama tiga menit dan barulah ia khawatir dan melarikan ke rumah sakit.
Selama tiga minggu setelah itu mereka terus keluar masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena bayinya terus batuk dan bahkan mengalami kesulitan bernafas. Bayinya mengalami pertussis, kondisi batuk-batuk pada bayi yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis.
Pertussis bisa menyerang siapa saja, namun lebih berbahaya pada bayi di bawah 1 tahun karena batuk bisa menyebabkan kesulitan bernafas. Meski sudah membaik, namun pengalaman ini jelas tak akan pernah dilupakan Cormit.
Ia bahkan berkata, "Jika aku bisa mengembalikan waktu, aku akan memilih melindungi diriku sendiri." Karena dengan melindungi kesehatan tubuhnya sendiri, ia pun bisa melindungi kesehatan bayinya.
Ia ingin banyak calon ibu di luar sana lebih perhatian dengan kesehatannya, bahkan untuk hal-hal kecil dan sepele sekalipun. Jangan mengabaikan kondisi kesehatan yang tampaknya tak penting, karena bisa jadi sebab kecil itulah yang mengancam nyawa buah hati.
Edukasi - Health
Lokal-zone.com - Kepolisian Resor Kota Pontianak menetapkan Sb, Kepala Sekolah MAN Ngabang sebagai tersangka penjualan kunci jawaban ujian nasional (UN) tingkat SMA/sederajat tahun 2016.
"Meskipun dari pemeriksaan tersangka Sb menolak terlibat, tetapi dari pengakuan tiga tersangka Sm, YS dan F dan berdasarkan transfer uang ke rekening Sb dari ketiga tersangka tersebut, maka buktinya sudah kuat," kata Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Tubagus Ade H di Pontianak, Jumat (8/4).
Peran Sb yakni sebagai otak dari penjualan kunci jawaban UN itu, karena dirinya sebagai panitia penyelenggara UN dan berkas soal UN juga berada di ruang kerjanya.
"Dari keterangan saksi, aksi penjualan kunci jawaban UN ini sudah lama dilakukan tersangka Sb dan rekannya, dan baru kali ini terendus dan ditangkap," terang Tubagus.
Hasil penyelidikan dan kerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, hasilnya kunci jawaban soal UN tingkat SMA/sederajat itu tingkat keakuratannya sekitar 80-85 persen jawaban itu benar.
"Menurut pengakuan tersangka kunci jawaban UN tersebut dijual bervariasi dari Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu yang sudah terjual kepada siswa sekitar 85 peserta UN. kemungkinan jumlahnya bisa bertambah atau berkurang," ungkap Tubagus dikutip dari Antara.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawesean menyatakan, terungkapnya penjualan kunci jawaban UN itu berawal dari ditangkapnya dua tersangka Sm dan YS, Senin (4/4) di depan SMK Negeri 1 Jalan Danau Sentarum, Kecamatan Pontianak Kota.
Dari keterangan tersangka, bahwa kunci jawaban didapat dari oknum Kepala MAN Ngabang. Kunci jawaban UN dijual kepada empat orang peserta ujian di Pontianak.
Dari hasil pengembangan selanjutnya, tersangka mengakui sudah menjual kunci jawaban untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Geografi, yang dari hasil penjualan kunci jawaban terkumpul Rp 8 juta yang disimpan tersangka di rumahnya.
Saat ini Polresta Pontianak sudah mengamankan barang bukti sebanyak 36 lembar kunci jawaban mata pelajaran Matematika, dan uang Rp 8 juta, bukti transfer uang sebesar Rp 25 juta kepada tersangka Bs.
"Keempat tersangka diancam pasal 322 KUHP dengan ancaman sembilan tahun kurungan penjara," kata Andi.
"Meskipun dari pemeriksaan tersangka Sb menolak terlibat, tetapi dari pengakuan tiga tersangka Sm, YS dan F dan berdasarkan transfer uang ke rekening Sb dari ketiga tersangka tersebut, maka buktinya sudah kuat," kata Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Tubagus Ade H di Pontianak, Jumat (8/4).
Peran Sb yakni sebagai otak dari penjualan kunci jawaban UN itu, karena dirinya sebagai panitia penyelenggara UN dan berkas soal UN juga berada di ruang kerjanya.
"Dari keterangan saksi, aksi penjualan kunci jawaban UN ini sudah lama dilakukan tersangka Sb dan rekannya, dan baru kali ini terendus dan ditangkap," terang Tubagus.
Hasil penyelidikan dan kerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, hasilnya kunci jawaban soal UN tingkat SMA/sederajat itu tingkat keakuratannya sekitar 80-85 persen jawaban itu benar.
"Menurut pengakuan tersangka kunci jawaban UN tersebut dijual bervariasi dari Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu yang sudah terjual kepada siswa sekitar 85 peserta UN. kemungkinan jumlahnya bisa bertambah atau berkurang," ungkap Tubagus dikutip dari Antara.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawesean menyatakan, terungkapnya penjualan kunci jawaban UN itu berawal dari ditangkapnya dua tersangka Sm dan YS, Senin (4/4) di depan SMK Negeri 1 Jalan Danau Sentarum, Kecamatan Pontianak Kota.
Dari keterangan tersangka, bahwa kunci jawaban didapat dari oknum Kepala MAN Ngabang. Kunci jawaban UN dijual kepada empat orang peserta ujian di Pontianak.
Dari hasil pengembangan selanjutnya, tersangka mengakui sudah menjual kunci jawaban untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Geografi, yang dari hasil penjualan kunci jawaban terkumpul Rp 8 juta yang disimpan tersangka di rumahnya.
Saat ini Polresta Pontianak sudah mengamankan barang bukti sebanyak 36 lembar kunci jawaban mata pelajaran Matematika, dan uang Rp 8 juta, bukti transfer uang sebesar Rp 25 juta kepada tersangka Bs.
"Keempat tersangka diancam pasal 322 KUHP dengan ancaman sembilan tahun kurungan penjara," kata Andi.
Hukum - Nasional
Singaraja - Siapa yang tidak kenal Nong Nong Kling Banyuning, sejumlah film pendeknya telah banyak beredar melalui media sosial dengan suguhan humor berbalut edukasi masyarakat. Berkat kegigihan dan bekerjasama dengan Satuan Lantas Polres Buleleng, film dengan judul "Mengikis Keraguan" berhasil meraih 3 nominasi dalam lomba film pendek yang digelar oleh Polres Klungkung.
Film dengan tema melawan tindak korupsi yang disutradarai oleh Gede Pasek Sriada bersama tim produksi Taksu North Bali dan Sanggar Nong Nong Kling Banyuning ini didaulat tim juri sebagai The Best Film, The Best Director dan The Best Favorit, sekaligus.
Kasat Lantas Polres Buleleng AKP Nyoman Sugianyar Ardika, atas seijin Kapolres Hariyadi, Rabu (6/4/2016) mengungkapkan bahwa dirinya sangat berharap film ini bisa mengedukasi masyarakat sekaligus anggota Polri untuk bersama-sama mendukung tindakan anti korupsi berupa pungli di jalanan.
"Kami sangat bersyukur sekali, karena dengan pelaksanaan yang mendadak, kesiapan juga tidak ada semua ini berkat kelihaian pengarah film. Intinya selain edukasi kepada masyarakat, saya harapkan personil saya juga tetap bekerja sesuai aturan untuk menekan pungli di jalan, apapun masalahnya harus diselesaikan sesuai aturan yang berlaku," ujarnya.
Sedangkan pemeran utama dalam film tersebut, Brigadir Gusti Ngurah Adi Santosa yang saat ini bertugas di bagian Samsat, Sat Lantas Polres Buleleng mengaku mendapat tantangan besar dalam pembuatan film ini pasalnya dirinya tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam dunia akting.
"Sangat senang sekali, dan tidak menyangka dapat 3 nominasi sekaligus. Kendalanya mungkin karena saya sama sekali tidak punya pengalaman, saya coba dan itu pun karena arahan dari sutradaranya yang sangat bagus," Ujar Adi Santosa.
Pengambilan gambar dilakukan selama 2 hari dan masing-masing menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam di lapangan yang selanjutnya digarap dalam studio editing video. Penasaran dengan filmnya, yuk tonton langsung.!!
Buleleng - Peristiwa
Langganan:
Postingan (Atom)











