Select Menu
Buah Unggul
Diberdayakan oleh Blogger.

Buleleng

Bali

Teknologi

Lifestyle

Nasional

Videos

LokalZone - Penyelidikan atas dugaan penyelundupan gas LPG 3 kg yang disubsidi oleh pemerintah terus digulirkan oleh pihak Kepolisian, hari ini Rabu (10/6/2015) Polisi telah menetapkan satu orang Nahkoda Kapal, Abdullah (55) warga Desa. Kecamatan. Sepeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sebagai tersangka. (baca juga : Polisi Sidik Kapal Pembawa Gas Bersubsidi Keluar Daerah)

"Untuk gas 3 kg, karena ini regionalnya Buleleng tidak diperbolekan keluar Kabupaten Buleleng, karena ini diduga akan dibawa ke Sepeken, Sumenep. Sementara kita amankan dulu, gas beserta pelakunya," papar Kasat Reskrim AKP Ketut Adnyana TJ di lokasi kapal dengan nama lambung Martina milik pelaku bersandar.

Lebih lanjut dari hasil penyidikan Polisi diketahui pelaku membeli gas 3 kg di kios-kios dengan harga Rp 20 ribu dan akan dijual kembali seharga Rp 25 ribu di Sumenep.

"Ini merupakan salah satu penyebab kelangkaan gas 3 kg ini, selain yang kemarin juga sudah kita amankan pengoplosan di Bebetin. Tersangka baru satu orang, dan kita masih menunggu hasil koordinasikan dengan saksi ahli, Pertamina apakah bisa dikenakan pasal periagaan atau bagaimana. Termasuk asal gas 3 kg tersebut karena dari koordinasi sebelumnya dari Pertamina akan memberikan peringatan kepada mereka," jelas Adnyana TJ.

Kasat reskrim Adnyana TJ juga tidak menampik adanya indikasi penyelundupan gas bersubsidi juga terjadi di tempat lain dengan menggunakan modus yang sama karena itu pihaknya mengaku akan tetap melakukan pemeriksaan dan pengecekan kapal yang bersandar di wilayah Buleleng bekerjasama dengan Sat Polair.
 
Sedangkan pelaku saat ditanya mengaku dengan polos bahwa gas tersebut akan dibawa ke Sumenep kepada sejumlah wartawan."Ini mau dibawa ke Sepeken, Beli dari pelabuhan seharga Rp 20 ribu, ini titipan pak," kata Abdullah yang juga sempat tidak sadarkan diri lantaran merasa pusing saat menunjukkan barang bukti 105 buah gas ukuran 3 kg di Mapolres Buleleng.

Kini akibat perbuatannya pelaku terancam dijerat dengan pasal 55 Sub Pasal 53 huruf d UU No. 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi, dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.
- -
LokalZone - Operasi Kepolisian dengan sandi Patuh Agung 2015 yang digelar selama 14 hari sejak tanggal 27 Mei lalu usai sudah, hasilnya 705 pelanggar ditindak oleh Sat Lantas Polres Buleleng dengan rincian 701 pelanggar dikenakan tilang sedanglan sisanya sebanyak 34 diberikan teguran simpatik.

Berdasarkan press release dari Kasat Lantas Polres Buleleng AKP Nyoman Sugianyar Ardika, Rabu (10/6/2015) di Mapolres Buleleng mengungkapkan angka pelanggaran yang terjadi saat operasi Patuh tahun ini lebih sedikit dari tahun lalu, dari 818 menjadi 735 pelanggaran tahun ini. Dan angka kecelakaan juga menurun dari 31 menjadi 11 orang, namun demikian jumlah korban meninggal naik sebesar 33% dari 2 orang pada tahun lalu menjadi 3 orang di tahun ini.

Selain itu dirinya juga mengungkapkan bahwa daerah rawan kecelakaan yang berakibat fatal justru terjadi di tempat yang sepi dan di jalur lurus. "Daerah rawan laka di Buleleng, sepanjang jalur Singaraja Seririt, Desa Gitgit, dan Desa Pejarakan, Kecamatan Kerokgak. Daerah laka meninggal dunia masih Gerokgak,  keadaan jalan bagus, sepi, lurus tapi banyak pohon. Biasanya di tempat seperti ini pengendara kendaraan melacu kencang sehingga laka sering berakibat fatal," ungkap Sugianyar.

Untuk menindak lanjuti hal ini pihaknya mengatakan sudah berkoordinasi dengan Polda Bali, pasalnya jalur tersebut merupakan jalan Propinsi serta bekerjasama dengan Jasa Raharja dan PU, termasuk pemasangan banner dan himbaun untuk berhati-hati khususnya di tempat rawan laka.

Sementara itu dari data yang ada juga menyebutkan bahwa pelanggaran masih banyak didominasi oleh pengguna kendaraan roda dua dan para remaja berumur 16-21 dengan jenis pelanggaran pelanggaran berupa helm, kelengkapan kendaraan dan surat ijin mengemudi.

Melihat hasil tersebut Kasat Lantas meminta kepada masyarakat untuk mentaati peraturan lalu lintas yang biasanya menjadi awal dari sebuah kecelakaan. "Saya harapkan masyarakat untuk taat dan patuh terhadap aturan yang berlaku, karena pelanggaran ini biasanya menyebabkan laka lantas. Kita sudah berusaha berbuat, melaksanakan pengling / penyuluhan ke pasar, kejalan, universitas, sekolah tapi ini tergantung dari masyarakatnya untuk tetap berhati-hati untuk menghindari laka lantas," papar Sugianyar.
- -
LokalZone - Situasi kamtibmas di Kabupaten Buleleng akhir-akhir ini memang masih landai, namun rupanya hal tersebut tidak menyurutkan niat dari Jajaran Polres Buleleng untuk tetap siap siaga dengan menggelar latihan Panggilan Luar Biasa (PLB) kepada seluruh personilnya dengan membunyikan alarm stelling, Rabu (10/6/2015) pagi.

Ditemui usai kegiatan Wakapolres Buleleng Kompol Michael Revelindo Risakotta mengungkapkan bahwa latihan ini bertujuan untuk mengelar pasukan secepat mungkin terlebih dalam keadaan yang tidak memungkinkan seperti saat pemadaman listrik.

"Kaitan tadi kita lakukan latihan panggilan luar biasa (PLB), kita dituntut agar bisa menggelar pasukan dalam waktu yang singkat. Tadi ada pemadaman secara serentak di Bali, dalam hal listrik mati sebagian alat komunikasi kita berupa radio mati dan pekerjaan secara onlinepun terganggu, ada baiknya kita adakan antisipasi dini hal-hal yang tidak diinginkan," ungkap Wakapolres Michael Risakotta.

Dalam skenario pengamanan Mako dari serangan tersebut seluruh personil diharuskan untuk menempati posnya masing-masing di seluruh sudut Polres Buleleng yang dianggap rawan dibobol dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Hasil dari kegiatan tersebut bahkan melebihi dari ekspektasi Wakapolres Buleleng, pasalnya seluruh personil sudah menempati pos yang ditentukan dalam waktu kurang dari lima menit.

"PLB dilaksanakan sangat baik, tadi jam 11.11 kita bunyikan alarm dan jam 11.15, empat menit semua personil sudah menempati posisi sesuai SOP pengamanan Mako yang kita miliki. Standar yang biasa kita harapkan 10 - 15 menit, ini sudah sangat bagus, dan kehadiran personil juga lengkap kecuali personil yang melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan di lapangan," ujar Wakapolres Michael Risakotta.
-
LokalZone - Satuan Reskrim Polres Buleleng berhasil menggagalkan pengiriman Gas LPG 3 kg yang disubsidi pemerintah keluar Bali. Rencananya ratusan gas LPG tersebut akan disebrangkan ke Madura menggunakan kapal dengan nama "Martina" namun nahas tindak tanduknya berhasil tercium oleh Polisi. 

Kasat Reskrim Polres Buleleng AKP Ketut Adnyana TJ, ditemui di ruang kerjanya, Selasa (9/6/2015) membenarkan adanya penangkapan tersebut dan saat ini pemilik masih diamankan di Mapolres Buleleng.

"Seijin Kapolres Buleleng, tadi malam (Senin 8/6, red), anggota opsnal kami melakukan penangkapan terhadap seseorang yang diduga membawa gas 3 kg ke Madura, karena tidak dilengkapi surat administrasi kita amankan di Polres Buleleng," ungkap Adnyana TJ.

Salah satu awak kapal, Abdulah (55) hingga saat ini masih diamankan di Mapolres Buleleng beserta barang bukti berupa 105 tabung gas 3 kg dalam keadaan terisi, tabung 12 kg 3 buah dalam keadaan terisi, serta kapal kayu dengan nama lambung Martina yang saat ini bersandar di Kampung Baru. 

Berdasarkan keterangan yang dihimpun pihak kepolisian diketahui gas tersebut dibeli dari pengecer warga sekitar, namun demikian pihaknya masih tetap melakukan penyelidikan secara intensif.

"Ini dari pelabuhan rakyat Kampung Baru, dan ini didapatkan dari pengencer atau warga. Sementara masih proses lidik, barang itu dari mana, dan kalau memang benar ini mau dibawa keluar daerah kita akan di kenakan pasal berniaga," ujar Adnyana TJ.
-
LokalZone - Tim peneliti dari Universitas Federal Rio de Janeiro Brazil menemukan fosil burung purba berusia 115 juta tahun di superbenua Gondwana, yang kini dikenal sebagai daerah timur laut Brasil. Burung ini diperkirakan tewas saat masih remaja, bulungnya warna-warni, dan memiliki bulu ekor seperti pita yang panjang.

Fosil burung ini panjangnya 14 centimeter dari kepala hingga ekor. Fosil seukuran ini dari jenis burung belum pernah ditemukan sebelumnya di Amerika Selatan. Ini juga salah satu yang tertua fosil burung yang diketahui dari Gondwana, sebuah superkontinen yang pernah meliputi Afrika, Antartika, Australia, India dan Amerika Selatan.

Ketua tim peneliti, Ismar de Souza Carvalho, profesor paleontologi dan geologi di Universitas Federal Rio de Janeiro di Brazil, mengatakan temuan itu tak terduga. Pada pandangan pertama, ia berpikir. "Apa ini? Setelah beberapa menit kami menyadari bahwa itu fosil yang bisa mengungkapkan lebih lanjut tentang sejarah ekosistem darat setidaknya 115 juta tahun yang lalu di Gondwana,” kata de Souza Carvalho seperti dimuat jurnal Nature Communications, 2 Juni 2015.

Penemuan itu menjadi salah satu temuan fosil yang paling lengkap dan terawat baik dari burung dengan bulu ekor seperti seperti pita dari periode Cretaceous Awal. Temuan ini memberikan peneliti pandangan bahwa belum pernah terjadi sebelumnya ada bulu-bulu menarik yang menghiasi bokong burung.

Mereka menemukan fosil ini pada 2011 di Brasil Araripe Basin, pusat sedimen fosil yang berumur dari 100 juta sampai 120 juta tahun. “Cekungan telah menghasilkan ribuan fosil serangga, reptil terbang, kura-kura, ikan dan berbagai jenis tanaman, semua dari periode Cretaceous,” kata de Souza Carvalho kepada Live Science.

Tapi ini bukan burung pertama yang ditemukan memiliki bulu seperti pita ekor. Orang telah menemukan spesimen yang sama di timur laut Cina, meski mereka tidak juga diawetkan.

Sebuah analisis anatomi terhadap fosil Brasil ini mengungkapkan bahwa bulu datar, seperti pita ekornya, mungkin tidak membantu burung dengan keseimbangan atau penerbangan. Sebaliknya, bulu ini mungkin telah menjadi ornamen, dan mungkin membantu spesies ini mengenali spesies lain dari jenisnya.

"Mungkin bulu adalah bentuk tampilan seksual atau berhubungan dengan komunikasi visual,” kata de Souza Carvalho.

Analisis lainnya menyatakan ekor itu akan menjerat burung. Ekor ini panjanganya sekitar 8 sentimeter, lebih panjang dari tubuh burung yang hanya 6 cm. Burung hidup tidak memiliki ekor lebih lebih panjang seperti bulu layaknya pita, menurut peneliti, meski burung tropis memiliki ekor memanjang yang menjadi hiasan saat dihempus angin.

"Ini bulu aneh yang terjadi pada burung punah," kata Richard Prum, profesor ilmu burung di Yale University yang tidak terlibat dengan penelitian ini. "Tapi mereka pada baris terpisah. Mereka tidak ada hubungannya dengan bulu modern. Ini menarik."

Para peneliti juga melihat bahwa, meski burung telah mengembangkan bulu yang tampaknya matang, tulangnya yang tidak sepenuhnya berkembang, dan memiliki mata yang sangat besar bagi tubuh kecil. “Karakteristik ini menunjukkan itu masih remaja,” kata de Souza Carvalho.

Mereka berharap dapat menemukan lebih banyak spesimen burung di Cekungan Araripe, untuk mempelajari lebih lanjut tentang temuan baru spesies. Fosil ini milik Enantiornithes, kelompok burung yang hidup pada masa dinosaurus, tapi para peneliti belum memberikan genus dan spesies baru.

“Kami masih membandingkan dengan beberapa burung yang berasal dari daerah lain di Gondwana untuk memutuskan, termasuk memberinya nama,” kata de Souza Carvalho.

Terlepas dari namanya, temuan ini memverifikasi bahwa Enantiornithes hidup di Gondwana, bukan hanya di superbenua Laurasia utara pada waktu yang sangat penting bagi evolusi burung.
- -