Bali, Lokalzone - Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa), yang meluncurkan drone --pesawat yang dikendalikan remote dan membawa kamera overview-- dari ujung barat, Sabang dan ujung timur Merauke berakhir di Bali. Ekspedisi yang digelar Telkomsel itu menjelajahi sedikitnya 50 kota dan menempuh jarak 8.500 kilometer sampai tiba di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Jimbaran, Bali, akhir pekan kemarin.
"Terima kasih Telkomsel, hasil video shooting dari atas langit Indonesia itu akan memperkuat materi promosi pariwisata Wonderful Indonesia," kata Menpar Arief Yahya yang juga mantan dirut Telkom, yang juga 10 tahun menjadi komisaris Telkomsel itu.
Dari bawah patung raksasa GWK itu, dua pesawat drone itu dijadikan dekorasi stage Elang Nusa, Ekspedisi Langit Nusantara 2016. Arief memuji ide menjelajahi dan menangkap keindahan Indonesia dari langit itu. Telkomsel sukses menyajikan tayangan video streaming (live dan recorded) yang merekam Indonesia lewat udara, melalui eksplorasi drone yang melintasi lebih dari 50 kota di Indonesia.
Program yang dinamakan Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) ini dimulai pada tanggal 14 April 2016. Elang Barat (drone yang menempuh jalur Barat) lepas landas dari Sabang dan secara bersamaan Elang Timur (drone yang menempuh jalur Timur) lepas landas dari Merauke. Selama sebulan penuh akhirnya, 14 Mei keduanya bertemu dan mengakhiri perjalanan di Garuda Wisnu Kencana, Bali.
Dalam ekspedisi penuh sensasi ini, keandalan jaringan broadband mendukung secara penuh proses untuk menggunggah hasil tangkapan kamera dari drone Elang Barat dan Elang Timur ke www.telkomsel.com/elangnusa. Sampai akhir program, tayangan video streaming ini telah disaksikan oleh masyarakat selama sekitar lebih dari 75 juta menit, dengan lebih dari 22 juta kali view.
Adapun kecepatan rata-rata akses data selama perjalanan Elang Nusa berlangsung tercatat baik. Untuk download berada di angka 18,5 Mbps dan upload di angka 11,8 Mbps. “Kami bersyukur perjalanan Elang Nusa terlaksana dengan baik, mampu menangkap keindahan Indonesia dari berbagai angel dari udara. Ekspedisi ini adalah pembuktian dan komitmen Telkomsel kepada masyarakat dalam menawarkan layanan broadband yang handal, dimana melintasnya dua buah drone di berbagai kota di jalur Barat dan Timur Indonesia ini juga menunjukkan luasnya sebaran jaringan broadband Telkomsel yang hadir di berbagai lokasi," ujar Direktur Network Telkomsel, Sukardi Silalahi dalam rilisnya.
Hasil video drone Elang Barat dan Timur itu tidak kelihatan kering. Karena ada banyak spot yang sekaligus menyapa masyarakat melalui berbagai aktivitas menarik yang menunjukkan keunggulan layanan broadband. Seperti di Medan, Palembang, Tasikmalaya, Yogyakarta, Malang, Banjarmasin, dan Makassar. Selain itu diadakan seminar seputar pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan sektor UKM, pariwisata dan kreatif, yang melibatkan pemangku kepentingan setempat, termasuk pemerintah daerah.
"Terima kasih Telkomsel, hasil video shooting dari atas langit Indonesia itu akan memperkuat materi promosi pariwisata Wonderful Indonesia," kata Menpar Arief Yahya yang juga mantan dirut Telkom, yang juga 10 tahun menjadi komisaris Telkomsel itu.
Dari bawah patung raksasa GWK itu, dua pesawat drone itu dijadikan dekorasi stage Elang Nusa, Ekspedisi Langit Nusantara 2016. Arief memuji ide menjelajahi dan menangkap keindahan Indonesia dari langit itu. Telkomsel sukses menyajikan tayangan video streaming (live dan recorded) yang merekam Indonesia lewat udara, melalui eksplorasi drone yang melintasi lebih dari 50 kota di Indonesia.
Program yang dinamakan Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa) ini dimulai pada tanggal 14 April 2016. Elang Barat (drone yang menempuh jalur Barat) lepas landas dari Sabang dan secara bersamaan Elang Timur (drone yang menempuh jalur Timur) lepas landas dari Merauke. Selama sebulan penuh akhirnya, 14 Mei keduanya bertemu dan mengakhiri perjalanan di Garuda Wisnu Kencana, Bali.
Dalam ekspedisi penuh sensasi ini, keandalan jaringan broadband mendukung secara penuh proses untuk menggunggah hasil tangkapan kamera dari drone Elang Barat dan Elang Timur ke www.telkomsel.com/elangnusa. Sampai akhir program, tayangan video streaming ini telah disaksikan oleh masyarakat selama sekitar lebih dari 75 juta menit, dengan lebih dari 22 juta kali view.
Adapun kecepatan rata-rata akses data selama perjalanan Elang Nusa berlangsung tercatat baik. Untuk download berada di angka 18,5 Mbps dan upload di angka 11,8 Mbps. “Kami bersyukur perjalanan Elang Nusa terlaksana dengan baik, mampu menangkap keindahan Indonesia dari berbagai angel dari udara. Ekspedisi ini adalah pembuktian dan komitmen Telkomsel kepada masyarakat dalam menawarkan layanan broadband yang handal, dimana melintasnya dua buah drone di berbagai kota di jalur Barat dan Timur Indonesia ini juga menunjukkan luasnya sebaran jaringan broadband Telkomsel yang hadir di berbagai lokasi," ujar Direktur Network Telkomsel, Sukardi Silalahi dalam rilisnya.
Hasil video drone Elang Barat dan Timur itu tidak kelihatan kering. Karena ada banyak spot yang sekaligus menyapa masyarakat melalui berbagai aktivitas menarik yang menunjukkan keunggulan layanan broadband. Seperti di Medan, Palembang, Tasikmalaya, Yogyakarta, Malang, Banjarmasin, dan Makassar. Selain itu diadakan seminar seputar pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan sektor UKM, pariwisata dan kreatif, yang melibatkan pemangku kepentingan setempat, termasuk pemerintah daerah.
“Dengan semakin terhubungnya masyarakat Indonesia, maka kehadiran layanan broadband ini diharapkan dapat mendorong produktivitas masyarakat di berbagai daerah, seperti dalam aspek sosial, ekonomi, pariwisata, industri kreatif dan lainnya," jelas Sukardi.
Telkomsel konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi 3G, HSDPA, HSPA+, serta menjadi yang pertama meluncurkan secara komersial layanan mobile 4G LTE di Indonesia. Untuk melayani kebutuhan pelanggan, Telkomsel menggelar call center 24 jam dan lebih dari 400 pusat layanan GraPARI yang tersebar di seluruh Indonesia.
Telkomsel konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi 3G, HSDPA, HSPA+, serta menjadi yang pertama meluncurkan secara komersial layanan mobile 4G LTE di Indonesia. Untuk melayani kebutuhan pelanggan, Telkomsel menggelar call center 24 jam dan lebih dari 400 pusat layanan GraPARI yang tersebar di seluruh Indonesia.
Bali - Teknologi
Bali, Lokalzone - Asia Pacific Media Forum (APMF) 2016 resmi digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Rabu (11/5/2016).
Ajang pertemuan para spesialis komunikasi, pemilik brand, penerbit, serta penggagas tren digital yang dilangsungkan setiap dua tahun itu akan berlangsung selama 3 hari dari 11-14 Mei 2016.
"Satu forum di mana kita bisa bersama-sama ekspansi pengetahuan, networking, dan tentunya kita bertukar opportunity bisnis," Kata Ketua APMF Andi Sadha, di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (11/5/2016).
Sekitar 20 pembicara bakal berbagi ilmu selama pelaksanaan AMPF 2016 berlangsung. APMF 2016 juga menghadirkan pameran APMFtech yang menampilkan teknologi dan solusi pemasaran terbaru.
"Kami sangat excited, tahun 2016 sesuatu yang berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana kami akan memperkenalkan APMFtech, adalah satu hari tambahan di mana kita mendatangkan lebih dari 20-an pembicara untuk berbicara tentang digital teknologi dan marketing," ujarnya.
Andi juga menyampaikan peserta APMF 2016 ini akan berbagi pengalaman dan strategi yang telah membawa mereka pada kesuksesan.
Ajang pertemuan para spesialis komunikasi, pemilik brand, penerbit, serta penggagas tren digital yang dilangsungkan setiap dua tahun itu akan berlangsung selama 3 hari dari 11-14 Mei 2016.
"Satu forum di mana kita bisa bersama-sama ekspansi pengetahuan, networking, dan tentunya kita bertukar opportunity bisnis," Kata Ketua APMF Andi Sadha, di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (11/5/2016).
Sekitar 20 pembicara bakal berbagi ilmu selama pelaksanaan AMPF 2016 berlangsung. APMF 2016 juga menghadirkan pameran APMFtech yang menampilkan teknologi dan solusi pemasaran terbaru.
"Kami sangat excited, tahun 2016 sesuatu yang berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana kami akan memperkenalkan APMFtech, adalah satu hari tambahan di mana kita mendatangkan lebih dari 20-an pembicara untuk berbicara tentang digital teknologi dan marketing," ujarnya.
Andi juga menyampaikan peserta APMF 2016 ini akan berbagi pengalaman dan strategi yang telah membawa mereka pada kesuksesan.
Bali - Teknologi
Teknologi, Lokalzone.com - Fenomena Gerhana Matahari Total
(GMT) yang akan melintasi sejumlah daerah yang dekat dengan garis
khatulistiwa di Indonesia pada 9 Maret nanti tak bisa dilewatkan begitu
saja. Penggunaan kacamata hitam disebut bisa melindungi mata dari efek
sinar ultraviolet. Namun kacamata seperti apa yang aman?
Menanggapi hal tersebut, dokter mata dari Jakarta Eye Center, dr
Soefiandi Soedarman, SpM mengatakan kacamata yang aman digunakan untuk
melihat Gerhana Matahari setidaknya memiliki proteksi 100-400 nanometer.
"Yang dikhawatirkan ketika melihat Gerhana Matahari adalah pada saat
dia bergeser. Untuk itu, kita butuh kacamata hitam yang memberikan
proteksi sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 100-400 nm," katanya
saat ditemui di JEC Kedoya, ditulis Sabtu
(5/3/2016).
Menurut dia, mata manusia bisa melihat cahaya yang memiliki panjang
gelombang 400-700 nm. Lebih dari 700 nm, kita tidak bisa melihatnya
karena sinar infra merah.
"Jadi nggak bahaya kalau kita sudah menggunakan kacamata hitam yang
tepat. Hanya saja untuk melihat gerhana parsial sebisa mungkin gunakan
kacamata anti UV ini sebelum dan sesaat setelah bulan bergeser menutupi
matahari untuk melindungi mata dari intensitas cahaya yang besar,"
ujarnya.
Edukasi - Teknologi
Lokalzone - Made
Supala belajar pertanian bukan karena kemauannya sendiri tetapi lebih
karena tidak memiliki pilihan lain. Tanpa uang Supala yang merupakan
anak seorang petani ini terpaksa mendaftar di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) pada tahun 1972 lantaran biayanya gratis, “Saat pendaftaran saya hanya membawa
jangkul,” Kata Made sambil tertawa mengenang.
Setelah lulus Supala langsung bekerja sebagai seorang PPL di Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Dari pekerjaannya ini Supala mulai menyadari penderitaan para petani, “Jika petani tidak menanam buah unggul, tanaman hanya berbuah sekali atau kualitas yang dihasilkannya akan sangat rendah,” katanya. Dan masalah lain yang muncul, hanya sedikit orang yang mau berkecimpung sebagai pemulia tanaman, sedangkan petani sendiri tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk itu. Supala melihat permasalahan ini dan berusaha menjadi solusi.
Tidak bisa kembali sekolah karena pekerjaan yang dilakoninya, Made Supala mulai belajar sendiri (otodidak) pengetahuan sebagai pemulia tanaman. Waktu itu masih belum ada seminar dari universitas-universaitas tentang pemulian tanaman sehingga pada tahun 1998 dia memutuskan untuk datang ke IPB Bogor tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Disana Supala bertemu seorang mahasiswa dan meminta sebuah silabus tentang penyilangan tanaman.
Tidak mudah baginya untuk mempelajari pengetahuan baru yang dipelajarinya, terlalu banyak pengetahuan dasar yang tidak diketahui seperti taksonomi dan genetika. Dan dia mulai menjawab tantangan itu dengan membeli berbagai macam buku di Bogor, Semarang, Denpasar dan Yogjakarta, tetapi pertolongan justru lebih banyak didapatkannya dari kebun di dekat rumahnya yang juga sekaligus sebagai tempat praktek ilmu yang dipelajarinya.
Dengan segala keterbatasannya, Supala mulai melakukan uji coba menyilangkan jenis tanaman amphimixis dengan cara tradisional, mengambil serbuk sari di satu pohon dan memoleskannya di putik pada bunga pohon tanaman yang lain. Hal ini dilakoninya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapatkan hasil, “saya mencari tanaman amphimixis yang bereproduksi dengan cara fertilisasi antara jantan dan betina,” Kata Supala.
Jenis tanaman amphimixis hanya dapat menghasilkan buah dengan cara fertilisasi, dimana serbuk sari bertemu dengan putik bunga. Sedangkan kebalikannya adalah apomixes yang dapat berkembang menjadi buah walau tanpa fertilisasi contohnya buah mangis. Hal ini menjadikan jenis tanaman ini sangat sulit untuk disilangkan, “jika tanaman jenis ini disilangkan sulit untuk mengetahui apakah buah dan biji yang dihasilkan itu merupakan hasil persilangan atau hanya bibit biasa yang hanya membawa gen tanaman aslinya,” katanya. Ini adalah mimpi buruk bagi seorang Breeder pasalnya butuh waktu bertahun-tahun untuk melihat tanaman berkembang.
Dengan keterbatasan informasi saat itu, tanpa internet, sangat sulit untuk mengetahui jenis tanaman mana saja yang tergolong amphimixis dan apomixes. Satu-satunya jalan untuk mencari tahu hanyalah dengan jalan menanam sebanyak-banyaknya plasma nutfah di kebun miliknya, “kita bungkus bagian bunganya dengan kertas dan menghilangkan bagian serbuk sarinya, jika putik tetap berkembang menjadi buah berarti itu jenis apomixes,” ungkapnya.
Made Supala mengumpulkan bibit dari berbagai tempat, ada yang dibeli dari nursery, dari teman temannya sesama pecinta tanaman dan terkadang dia mendapatkannya dengan mudah, ketika orang lain menganggap jenis tanaman itu tidak berharga tetapi baginya membawa gen potensial. Suatu hari di sebuah pameran dia mendapatkan tanaman sirsak berwarna kuning mencolok dengan jumlah biji yang sangat banyak dan pastinya akan sangat menggangu siapapun yang memakannya, apalagi rasa buahnya sangat hambar dijamin tidak akan ada yang menyukai buah ini. “Saya menyilangkan jenis ini dengan sirsak madu dengan harapan menghasilkan varietas baru dengan warna kuning pada bagian buah dan dagingnya tetapi rasanya manis seperti sirsak madu,” papar Supala.
Hasil eksperimen pertamannya adalah Srikaya Surix dan Nona Sri, keduannya merupakan hasil persilangan srikaya jenis Pineapple dengan San Pablo. Srikaya Pineapple memiliki tampilan kulit luar yang menyerupai buah nenas dengan rasa yang sangat manis, jumlah biji sedikit dengan warna daging yang berisi semburat berwarna kuning. Sedangkan San Publo adalah salah satu varian jenis Mulwo (annona reticulata), warna buahnya merah mencolok dengan kulit yang halus tetapi rasanya tidak begitu manis. Keduannya disilang dengan harapan akan mendapatkan varitas tanaman baru dengan rasa manis dari Pineapple dengan kulit yang lebih halus dan berwarna merah seperti San Publo.
“Untuk mendapatkan hasil diinginkan kita harus menyilangkan banyak buah,” ungkap Supala. Membutuhkan waktu sepuluh bulan untuk membesarkan jenis Pineapple sebelum siap disilangkan dengan San Publo. Tiga sampai empat bulan sejak disilangkan menunggu berbuah dan akhirnya mendapatkan bibit hasil persilangan, sekitar tiga tahun lebih menunggu bibit baru berbuah dan diseleksi mana yang paling potensial dari tampilan dan rasa, dari seleksi itu munculah jenis Surix dan Nona Sri. Dari segi tampilan keduannya mirip dengan warna merah hanya saja Nona Sri lebih besar dan kulit buahnya yang halus, ”Warna merah dan kulitnya yang halus dari Sun Publo, sedangkan dari tampilan titik-titik di kulit, rasa manis dan jumlah biji yang sedikit dari jenis srikaya pineapple,” katanya. Tetapi proses ini belum selesai, dia masih harus menunggu tiga tahun lamanya untuk memperbanyak bibit hasil seleksi tersebut. Dan Made Supala menpercayakan kepada beberapa petani Singaraja untuk melakukan perbanyakan tanpa satupun catatan yang mengarah kepadanya atas hasil eksperimen yang dilakukannya.
Bersamaan dengan itu Made Supala memutuskan untuk pensiun dini sebagai seorang PNS agar dapat berkonsentrasi bekerja sebagai seorang breeder / pemulia tanaman. Atas saran dari temannya dia memutyuskan untuk mengembangkan nurserynya dan membuka outlet penjualan bibit di Denpasar, Bali sekaligus sebagai tempat penyimpanan bibit hasil hobinya melakukan eksperimen di kebun miliknya. Dari nursery di Denpasar sedikitnya 5000 bibit telah terjual setiap tahunnya, sedangkan untuk menunjang kehidupan sehari-hari istrinya Made Supala sejak tahun 2006 menjual dodol yang merupakan salah satu makanan tradisional Bali.
Selain Srikaya dia juga melakukan persilangan pada buah sirsak, jambu, jeruk dan tanaman buah lainnya. Salah satu eksperimen yang sedang dilakukannya adalah menyilangkan Jeruk Taiwan dengan jeruk lokal, “Jeruk asal Taiwan lebih manis tetapi yang local lebih tahan penyakit,” katanya. Namun yang menjadi kesukaannya adalah srikaya, hal ini terlihat dari banyaknya varietas srikaya yang berbeda yang ditanam di kebunnya, salah satunya adalah srikaya bima dari Sumbawa, jenis ini sangat cepat berbuah dengan jumlah biji yang sangat banyak. Sekarang dia menyilangkan jenis ini ke semua jenis srikaya yang dimilikinya.
Artikel ini merupakan hasil translate Majalah Tempo Versi Inggris tanpa mengurangi makna dan isinya. Artikel sebelumnya Agronomi Amatir ; Berburu Varietas Unggul Baru dan berikutnya akan bersambung ke artikel dengan judul Agronomi Amatir III: Ironi Seorang Breeder, sumber Buah Unggul
Artikel - Buleleng - Motivasi - Teknologi
Langganan:
Postingan (Atom)










