LokalZone - Tidak mau mengalah anggota Polisi ini berjibaku di tengah lapangan Mapolres Buleleng hingga terguling-guling di tanah.
Adengan tersebut merupakan latihan beladiri dengan sparring partner guna memperlihatkan kebolehan masing-masing dan dipantau langsung oleh Wakapolres Buleleng Kompol Michael R. Risakotta, Jumat (26/2/2016).
Salah satu point penting dari arahan yang diberikan oleh Wakapolres Michael Risakotta pada kesempatan tersebut adalah adanya titik lemah yang dimiliki oleh setiap orang dan hal tersebut dapat dieksploitasi guna mencapai kemenangan.
| Wakapolres Michael Risakotta menunjukkan beberapa titik lemah |
"Setiap orang punya titik lemah, dalam posisi terkunci contohnya serang bagian kemaluan atau bisa juga bagian leher, dan lawan yang lebih kuat bisa dengan teknik gulat, banting dan kunci," ujar Michael Risakotta menerangkan kegiatan tersebut.
Menurutnya selain menembak, beladiri juga merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki setiap anggota Polri terlebih dalam menghadapi tugas dan tangtangan kedepan. Untuk itu pihaknya telah menjadwalkan latihan menembak dan beladiri secara rutin, bahkan akan melakukan sparing partner dengan menggunakan helm pengaman.
"Nantinya kegiatannya dilakukan secara rutin, bila perlu sparingnya pakai helm pengaman," celoteh Wakapolres Michael Risakotta.
Buleleng - Seremonial
LokalZone - Mengantisipasi adanya penyalahgunaan narkoba di Jajarannya, Wakapolres Buleleng Kompol Michael R. Risakotta secara mendadak mengadakan tes urin kepada seluruh personilnya dengan metode random sampling, Kamis (25/2/2016).
"Kita menindaklanjuti perintah dari Mabes dan Polda untuk melaksanakan Gaktiplin (penegakan disiplin dan ketertiban), pemeriksaan surat-surat kelengkapan, senjata, termasuk penyimpangan anggota terhadap narkoba. Karena kita sering melaksanakan penindakan narkoba di Buleleng, kita
juga mengantisipasi adanya anggota kita yang mungkin menggunakan Narkoba" ujar Wakapolres Michael Risakotta.
Sistem random sampling sengaja dipilih lantaran keterbatasan peralatan berupa teskit yang dimiliki Polres Buleleng dan untuk hari ini hanya bisa melakukan tes terhadap 15 orang.
Namun demikian Wakapolres Michael Risakotta mengungkapkan tes urin ini akan dilaksanakan secara rutin dan terdadak sembari datangnya teskit dari Polda Bali. "Sempel 15 orang dan akan dilaksanakan secara rutin, karena teskitnya terbatas kita akan tunggu lagi teskitnya datang," paparnya.
Hasil sementara ini masih nihil namun demikian dari tes sebelumnya pihaknya mengaku telah menjaring sedikitnya 4 orang anggota dan telah melakukan tindak lanjut berupa rehabilitasi. "Yang kemarin saja ada, itu pun dalam rangka penyamaran, sekitar 4 orang dan sudah kita rehabilitasi," ungkap Wakapolres Michael Risakotta.
Buleleng - Peristiwa
LokalZone - Masih ingat tragedi tewasnya Made Suardana (35) warga Desa Tajen, Kecamatan Penebel, Tabanan, Rabu (10/2/2016) lalu saat menolong keponakannya yang hendak tenggelam lantaran jatuh ke air saat memancing ikan di pantai Celukan Bawang, Rabu (10/2/2016) lalu.
Mayat Suardana akhirnya ditemukan di dasar laut oleh Tim SAR dan Polair setelah melakukan pencarian selama satu setengah jam lamanya.
Lidik punya lidik ternyata di lokasi tersebut terdapat palung yang dalam sehingga aparat Kepolisian dari Polsek Celukan Bawang memasang papan larangan untuk berenang bagi masyarakat karena sangat berbahaya.
"Ini merupakan himbauan untuk tidak melakukan kegiatan renang dikawasan pelabuhan celukan
bawang terutama sebelah selatan dermaga semen tonasa karena seputaran
pantai tersebut ada daerah palung yang sangat dalam
dan banyak menelen korban jiwa," ungkap Kapolsek Celukan Bawang AKP Ketut Adnyana TJ, Rabu (24/2/2016).
Dengan pemasangan larangan berenang, Adnyana TJ berharap masyarakat mengerti akan potensi bahaya apabila berenang di tempat tersebut sekaligus menghindari tragedi serupa kembali terjadi.
"Ini untuk mencegah agar tidak terjadi kasus tenggelamnya masyarakat karena tidak tahu hal tersebut, sekaligus mengajak masyarakat agar bisa mengindahkan larangan kami itu supaya kejadian minggu lalu tidak kembali terulang terjadi disana," papar Adnyana TJ.
Buleleng - Peristiwa
LokalZone - Adengan simulasi yang diadakan di Kantor Camat Singaraja kemarin membuat sejumlah warga heboh, mereka berkerumunan di sepanjang Jalan Kartini untuk melihat adegan baku tembak polisi dengan 4 orang teroris bak film koboy disertai adu ketangkasan bela diri dan suara tembakan menggunakan peluru hampa dan ledakan 3 buah bom ASLI.
Tim jihandak dari Brimob Polda Bali, sengaja diturunkan untuk membuat suasana semirip mungkin dengan keadaan sebenarnya, bahkan bom yang diledakkan, Senin (22/2/2016) memiliki kekuatan lebih besar dengan bom yang digunakan pada saat gladi bersih sebelumnya.
"Ini jenis low eksplosif, hanya gak berisi bubuk hitamnya aja. Dibandingkan yang hari jumat lebih kuat yang ini," ungkap Pak Ali yang bertugas merakit bom saat simulasi.
"Yang ini bomnya, yang ini untuk asap, pemicunya pakai listrik. Berbahaya juga, makaknya kita bungkus dengan tas untuk mengurangi kekuatan ledakannya," jelasnya sambil merakit bom.
Dalam skenario 2 bom diledakan menggunakan pemicu sedangkan 1 bom diledakan secara paksa oleh tim jihandak.
Selain tim buru dan sergap (Buser) dari sat Reskrim dan Jihandak, sejumlah tim lainnya juga turut memberikan andil sesuai tupoksinya masing-masing seperti dari Dokpol sebagai tim medis, Sabhara yang bertugas mengamankan TKP, Binmas menghimbau warga agar tidak mendekat, dan Identifikasi dalam rangka melakukan olah TKP juga tidak kalah greget.
"Simulasi penanganan aksi terorisme, sesuai skenario ada baku tembak, ada bom yang diledakkan plus ada salah satu benda / tas yang dicurigai dan diledakkan oleh tim gegana. Tujuannya, pertama meningkatkan respon anggota pada saat kejadian, kedua kecepatan mendatangi TKP dan ketiga kami menginginkan keterpaduan antar Satfung yang ada dalam menangani situasi yang extraordinary ini. Bagian peran Shabara, tim Tindak, Identifikasi, Gegana sudah tergambar dengan jelas, hasilnya cukup bagus mengingat kita sudah berulang kali melaksanakan kegiatan ini," ujar Kapolres Buleleng AKBP Harry Hariyadi B. usai kegiatan simulasi.
Buleleng - Peristiwa
LokalZone - Pedangdut Hesty Aryaduta (21) mengaku terguncang setelah terjaring razia dan disangka terlibat dalam prostitusi artis.
Hal itu disampaikan Eddie selaku kuasa hukum Nagaswara di mana Hesty bernaung.
"Tadi saya bertemu Hesty dia sedih. Saya bertemu di Polda Lampung," ungkap Eddie.
Sayangnya, Hesty tak bisa banyak bercerita.
Pasalnya, saat itu pelantun "Klepek Klepek" itu masih harus menjalani sejumlah pemeriksaan.
"Dia tidak bercerita tentang pokok masalah. Tapi dia pasti sedih ya," ujarnya.
"Dia masih harus BAP, polisi kan punya waktu 1x24 jam sebelum diputuskan akan ditahan atau tidak," tambah Eddie.
Hesty diamankan dalam razia yang digelar Polda Lampung. Saat itu, wanita kelahiran Bandung, 18 Mei 1994 ini sedang bersama dengan seorang pria di kamar hotel.
Bersama Hesty turut diamankan sejumlah barang bukti seperti uang tunai dan alat kontrasepsi.
Tak hanya Hesty, polisi juga mendapati lima terduga mucikari, empat diantaranya dari Lampung, satu dari Jakarta.
Kepala Sub Direktorat IV Direktur Kriminal Umum Polda Lampung AKBP Ferdian Indra Fahmi mengatakan, Hesty merupakan korban kasus perdagangan manusia dan prostitusi.
Hesty sempat ditawarkan kepada lelaki hidung belang oleh mucikari berinisial KS sebelum ia ditangkap polisi.
Hal itu disampaikan Eddie selaku kuasa hukum Nagaswara di mana Hesty bernaung.
"Tadi saya bertemu Hesty dia sedih. Saya bertemu di Polda Lampung," ungkap Eddie.
Sayangnya, Hesty tak bisa banyak bercerita.
Pasalnya, saat itu pelantun "Klepek Klepek" itu masih harus menjalani sejumlah pemeriksaan.
"Dia tidak bercerita tentang pokok masalah. Tapi dia pasti sedih ya," ujarnya.
"Dia masih harus BAP, polisi kan punya waktu 1x24 jam sebelum diputuskan akan ditahan atau tidak," tambah Eddie.
Hesty diamankan dalam razia yang digelar Polda Lampung. Saat itu, wanita kelahiran Bandung, 18 Mei 1994 ini sedang bersama dengan seorang pria di kamar hotel.
Bersama Hesty turut diamankan sejumlah barang bukti seperti uang tunai dan alat kontrasepsi.
Tak hanya Hesty, polisi juga mendapati lima terduga mucikari, empat diantaranya dari Lampung, satu dari Jakarta.
Kepala Sub Direktorat IV Direktur Kriminal Umum Polda Lampung AKBP Ferdian Indra Fahmi mengatakan, Hesty merupakan korban kasus perdagangan manusia dan prostitusi.
Hesty sempat ditawarkan kepada lelaki hidung belang oleh mucikari berinisial KS sebelum ia ditangkap polisi.
Nasional - Peristiwa
Langganan:
Postingan (Atom)








